fixmakassar.com – Dany Rodrick, ekonom kawakan dari Harvard Kennedy School, dalam tulisannya di Project Syndicate (7 Mei 2025) mengungkapkan kekesalannya terhadap kebijakan perdagangan ala Donald Trump. Ia menyebutnya sebagai merkantilisme versi terburuk, sebuah kapal karam yang mengancam perairan ekonomi global. Rodrick, bagai pelaut berpengalaman, menunjukkan bagaimana kebijakan Trump, yang menyerupai kapal dagang abad ke-16, mengabaikan prinsip-prinsip ekonomi modern.
Merkantilisme, paham ekonomi usang yang berkembang di Eropa abad ke-16 hingga 18, menganggap surplus perdagangan sebagai kunci kekayaan dan kekuatan. Trump, dengan retorikanya yang lantang, menganggap defisit perdagangan sebagai momok yang harus dibasmi. Ia percaya tarif adalah senjata ampuh, sebuah pedang untuk melawan ancaman ekonomi. Namun, pandangan ini, menurut Rodrick, sudah usang dan tak relevan dengan dinamika ekonomi global saat ini.

Pada 1 Februari 2025, Trump mendeklarasikan darurat nasional terkait narkoba dan menetapkan tarif 25% untuk impor dari Kanada dan Meksiko, serta 10% untuk China. Puncaknya, pada 2 April 2025 (dijuluki "Liberation Day"), Trump meluncurkan tarif universal 10% dan tarif resiprokal untuk 60 negara yang dianggap menciptakan defisit perdagangan bagi AS. Tindakan ini memicu reaksi balik, China membalas dengan tarif tambahan, sementara negara lain, termasuk Indonesia, memilih jalur diplomasi.
Ekspor Indonesia ke AS mencapai 8% dari total ekspor, namun berkontribusi 45% pada surplus neraca perdagangan. Negosiasi alot selama tiga bulan, yang melibatkan Presiden Prabowo, akhirnya menghasilkan penurunan tarif resiprokal untuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19%. Namun, Indonesia juga berkomitmen membeli produk energi AS senilai 15 miliar dolar AS, produk pertanian 4,5 miliar dolar AS, dan 50 pesawat Boeing 777.
Kebijakan Trump mengubah peta perdagangan global dari multilateral menjadi unilateral, mengabaikan peran WTO. Hal ini memunculkan kembali gagasan autarki, keinginan suatu negara untuk mandiri secara ekonomi. Indonesia, dengan sumber daya alam yang melimpah, memiliki potensi untuk menghadapi badai proteksionisme ini.
Pertama, swasembada pangan dan energi menjadi kunci. Kedua, hilirisasi sumber daya alam meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah. Ketiga, diversifikasi hubungan perdagangan dengan berbagai negara mitra menjadi penting, memperkuat posisi tawar Indonesia di panggung global. Indonesia perlu memanfaatkan kerja sama internasional melalui EU CEPA dan BRICS untuk mendorong reformasi tata kelola global yang lebih adil.
Rodrick menyimpulkan, merkantilisme ala Trump tak lebih dari sebuah strategi yang lemah dan kacau. Indonesia, dengan strategi yang tepat, mampu melewati badai ini dan mengarungi lautan ekonomi global dengan lebih kokoh.
Oleh: Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina






