fixmakassar.com – Biaya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini bagai gunung es yang baru terlihat puncaknya. Diperkirakan, kas negara Paman Sam telah terkuras hingga US$ 11,3 miliar, atau setara dengan Rp 190,82 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.886). Angka fantastis ini, yang mencuat dari laporan sejumlah pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump, mengindikasikan bahwa konflik di Timur Tengah telah membebani keuangan AS secara signifikan.
Namun, angka tersebut belum mencakup keseluruhan biaya yang harus ditanggung. Dalam pertemuan kongres AS beberapa waktu lalu, terungkap bahwa Gedung Putih kemungkinan besar akan mengajukan permintaan pendanaan tambahan perang ke parlemen. Beberapa pejabat bahkan menyebut, pendanaan yang akan diajukan bisa mencapai US$ 50 miliar atau sekitar Rp 844,8 triliun. Angka fantastis ini, menurut beberapa anggota kongres, hanyalah permulaan dari sebuah ‘sumur’ pendanaan yang lebih dalam. Hingga kini, Gedung Putih masih bungkam, belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana pengajuan dana tambahan ini.

Meskipun Kongres diperkirakan akan menyetujui kucuran dana tambahan ini, kekhawatiran mulai membayangi. Konflik yang berkepanjangan ini dikhawatirkan akan menguras habis ‘amunisi’ dan persediaan militer AS, meninggalkan lubang besar dalam kekuatan pertahanan mereka. Menanggapi potensi krisis persediaan ini, Presiden Trump dilaporkan telah bertemu dengan para eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan terkemuka pekan lalu, sebuah langkah untuk mengisi kembali ‘gudang senjata’ negara.
Sebelumnya, administrasi AS juga telah merinci ongkos awal perang, termasuk amunisi senilai US$ 5,6 miliar yang digunakan hanya dalam dua hari pertama serangan. Ironisnya, di tengah membengkaknya biaya, Trump sempat mengklaim telah memenangkan perang melawan Iran. Serangan perdana AS ke Iran tercatat sejak 28 Februari lalu, dan hingga saat ini, konflik tersebut telah menelan korban jiwa sekitar 2.000 orang, sebuah ‘harga’ yang sangat mahal bagi kedua belah pihak.






