Berita  

Terkuak! Jurang Perdagangan RI-China, Ada Apa di Balik Angka?

Mahadana
Terkuak! Jurang Perdagangan RI-China, Ada Apa di Balik Angka?

fixmakassar.com – Sebuah "gunung es" dalam hubungan perdagangan Indonesia dan China mulai terkuak ke permukaan. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, baru-baru ini membuka tabir kesenjangan data yang mencolok antara catatan ekspor dari Negeri Tirai Bambu dengan angka impor yang tercatat di Tanah Air. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan akurasi data perdagangan bilateral, seolah ada bagian yang sengaja luput dari pantauan.

Menurut Maman, data perbandingan dari berbagai komoditas yang dihimpun oleh UN Trade and Development menunjukkan adanya disparitas signifikan sejak 2013 hingga 2024. Ini bukan sekadar selisih angka biasa, melainkan cerminan buram yang mengindikasikan adanya transaksi perdagangan yang tidak tercatat secara penuh atau ketidakselarasan data yang membingungkan di pihak Indonesia.

Terkuak! Jurang Perdagangan RI-China, Ada Apa di Balik Angka?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dalam diskusi media di Kementerian UMKM, Jakarta, Jumat (27/2/2024), Maman memaparkan beberapa contoh yang menggarisbawahi misteri data ini. Ambil contoh impor hijab dan syal dengan kode HS 6214. "Dari hijab lihat ini, yang merah dari tahun 2013 sampai ke tahun 2024 tercatat seperti ini yang tercatat impor di sini yang tercatat ekspor di Cina di atas semua. Berarti Pak kalau kita lihat dari tahun 2013 ada gap yang tidak tercatat, paling tinggi di 2018 2019 ini," ungkap Maman. Artinya, ekspor China untuk komoditas ini secara konsisten lebih tinggi daripada yang dicatat Indonesia sebagai impor, menunjukkan adanya impor yang tidak terdeteksi.

Pola serupa terlihat pada produk pakaian bayi (HS 62111). Pada tahun 2024, ekspor China mencapai US$ 4,2 juta, sementara impor Indonesia hanya tercatat US$ 2,7 juta. Selisih ini mengisyaratkan adanya aliran barang yang tidak sepenuhnya terdata dalam sistem perdagangan Indonesia.

Namun, anomali data justru muncul pada beberapa komoditas lain yang tak kalah menarik. Untuk korset dan bra (HS 6212), Indonesia mencatat impor senilai US$ 83,2 juta pada 2024, jauh di atas angka ekspor China yang hanya US$ 28,8 juta. Ketidakselarasan serupa juga terjadi pada pakaian dalam wanita (HS 6214), dengan impor Indonesia US$ 48,5 juta berbanding ekspor China US$ 13,9 juta, serta celana dalam pria (HS 6107) dengan impor US$ 16,2 juta berbanding ekspor China US$ 4,6 juta. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia justru mencatat impor yang lebih besar daripada yang dilaporkan China sebagai ekspor ke Indonesia, menciptakan teka-teki baru dalam akurasi data perdagangan bilateral.

Maman menambahkan, untuk produk seperti sepatu sneakers, meskipun masih ada gap, namun selisihnya tidak setajam produk lainnya. Hal ini, menurutnya, berkat geliat industri lokal yang mulai mampu bersaing dan memenuhi pasar domestik. "Kalau sepatu relatif tetap ada gap, tapi dia agak tipis tidak separah yang produk-produk lainnya, karena tadi perkembangan sneakers kita lokal-lokal bagi-bagi distro udah mulai mampu ngelawan gitu," jelas Maman.

Menghadapi "benang kusut" data ini, Maman Abdurrahman menyerukan agar semua pihak menghentikan budaya saling menyalahkan antara pemerintah dan pelaku usaha. Ia mengajak seluruh elemen untuk fokus mengidentifikasi akar masalah yang sudah nyata di depan mata dan mencari solusi konkret. "Saya siap dikritik, pejabat publik harus siap dong. Tapi poinnya jangan saling menyalahkan. Sekarang masalahnya sudah ketahuan, yuk kita selesaikan. Kalau sudah ketahuan tapi saya nggak kerja juga, baru berarti saya nggak bener," tegas Maman, menekankan pentingnya tindakan nyata setelah masalah terungkap. Akurasi data perdagangan menjadi krusial sebagai kompas bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tepat, melindungi industri dalam negeri, dan memastikan keadilan dalam persaingan pasar.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *