Berita  

Serbuan ke Warung Madura: Harga Beras Murah Jadi Primadona!

Mahadana
Serbuan ke Warung Madura:  Harga Beras Murah Jadi Primadona!

fixmakassar.com – Di tengah gejolak ekonomi, warung Madura menjelma menjadi oase bagi warga yang mencari beras murah. Layaknya magnet yang menarik logam, harga beras yang terjangkau di warung-warung ini menarik minat pembeli, khususnya mereka yang harus berhemat. Laporan fixmakassar.com dari Jakarta mengungkap fenomena ini.

Di kawasan Kota Baru-Bekasi Barat dan Pulogebang-Jakarta Timur, beras medium menjadi primadona. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 11.000 hingga Rp 13.000 per liter, tergantung kualitas. Namun, beras seharga Rp 11.000 hingga Rp 12.000 per liter menjadi pilihan utama. Seperti yang diungkapkan Rahmat, pemilik warung kelontong di Kota Baru. "Yang paling laku ya yang Rp 12.000. Yang cepat laku itu yang murah," ujarnya.

Serbuan ke Warung Madura:  Harga Beras Murah Jadi Primadona!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Rahmat menjelaskan, para pelanggannya lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas, terutama saat kondisi keuangan sedang menipis. "Sekarang nggak penting beras apa, yang penting kenyang," tuturnya. Ia bahkan mengaku sering mendapat pertanyaan tentang keberadaan beras Rp 11.000-an, meski ia sendiri enggan menjualnya karena kualitasnya kurang baik. Beras premium seharga Rp 13.000 per liter? Hanya menjadi pelengkap saja.

Senada dengan Rahmat, Endah, penjaga warung Madura di Pulogebang, mengatakan hal serupa. Beras murah, Rp 11.000-Rp 12.000 per liter, laris manis. Berbeda dengan beras Rp 13.000 per liter yang lebih banyak dibeli oleh pedagang makanan. "Kalau yang Rp 13.000 kebanyakan warung. Sekali beli banyak, mungkin karena kualitasnya lebih bagus," jelas Endah.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi memengaruhi pilihan konsumen. Di tengah himpitan biaya hidup, harga menjadi faktor penentu utama, walau kualitas sedikit terkorbankan. Warung Madura, dengan beras murahnya, tampaknya menjadi penyelamat bagi sebagian warga yang harus pintar-pintar mengatur keuangan rumah tangga. Seperti pepatah, "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit," mereka memilih kuantitas demi memenuhi kebutuhan pokok.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *