fixmakassar.com – Hubungan dagang Indonesia dan Australia bak roller coaster, penuh potensi namun masih menyimpan tantangan. Menteri Investasi, Rosan Roeslani, optimis pertemuan Prabowo dan PM Albanese akan jadi angin segar bagi ekspor Indonesia. Meski sudah ada perjanjian dagang CEPA sejak 2020, neraca perdagangan masih timpang sebelah, Indonesia masih defisit.
Rosan menjelaskan, total perdagangan kedua negara mencapai US$15 juta atau sekitar Rp250,5 miliar. Namun, Indonesia masih harus menelan pil pahit defisit sekitar US$9 juta atau Rp150,3 miliar. Ibaratnya, Indonesia masih harus bekerja keras mengejar ketertinggalan.

Sektor pariwisata menjadi oase di tengah gurun defisit. Hampir 2 juta turis Australia membanjiri Indonesia setiap tahunnya. Namun, Rosan berharap, pesona Indonesia tak hanya terpusat di Bali, melainkan juga merambah ke destinasi eksotis lainnya seperti Labuan Bajo.
Lebih lanjut, Rosan mengungkapkan, BPI Danantara telah menjalin komunikasi dengan lima perusahaan Australia yang berpotensi menanamkan modalnya di Indonesia. Investasi ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pengembangan rumah sakit, proyek hilirisasi, hingga peternakan sapi. "Mereka bisa berinvestasi baik di bidang rumah sakit, dan dua di bidang hilirisasi. Dua di bidang hilirisasi mereka sudah investasi di Indonesia dan ingin melakukan ekspansi. Itu juga akan kita fasilitasi. Dan ada juga untuk agriculture di bidang sapi ya," jelas Rosan. fixmakassar.com akan terus memantau perkembangan investasi ini.






