Berita  

Rekor! Kekayaan Trump Menggunung, Tembus Rp 1.830 Triliun!

Mahadana
Rekor! Kekayaan Trump Menggunung, Tembus Rp 1.830 Triliun!

fixmakassar.com – Penerimaan bea cukai Amerika Serikat (AS) pada Juni lalu melesat bak roket, mencapai US$ 113 miliar atau setara Rp 1.830 triliun (kurs Rp 16.200)! Angka fantastis ini menjadi rekor tertinggi dalam satu tahun fiskal dan membuat kas negara surplus hingga US$ 27 miliar. Fixmakassar.com mengutip laporan dari fixmakassar.com, lonjakan ini dikaitkan erat dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang menaikkan tarif impor. Layaknya emas yang berlimpah, tarif impor kini menjadi sumber pendapatan signifikan bagi pemerintah federal.

Bea masuk bulan Juni mencetak rekor baru, meningkat empat kali lipat menjadi US$ 27,2 miliar (bruto) dan US$ 26,6 miliar (neto) setelah pengembalian dana. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, melalui platform X, menyatakan hasil ini sebagai bukti nyata keberhasilan agenda tarif Trump. Dalam empat bulan, kontribusi tarif terhadap pendapatan federal meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 2% menjadi 5%. Bessent menambahkan, "Seiring Presiden Trump bekerja keras untuk merebut kembali kedaulatan ekonomi negara kita, Laporan Keuangan Bulanan hari ini menunjukkan rekor bea cukai, dan tanpa inflasi!"

Rekor! Kekayaan Trump Menggunung, Tembus Rp 1.830 Triliun!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Selama sembilan bulan pertama tahun fiskal 2025, penerimaan bea cukai mencapai rekor US$ 113,3 miliar (bruto) dan US$ 108 miliar (neto), hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tarif kini menjadi sumber pendapatan terbesar keempat pemerintah federal, setelah pajak penghasilan perorangan (US$ 2,68 triliun), pajak penghasilan perorangan tak dipotong (US$ 965 miliar), dan pajak perusahaan (US$ 392 miliar).

Lonjakan ini menguatkan pandangan Trump tentang tarif sebagai sumber pendapatan yang menguntungkan dan alat penegak kebijakan luar negeri. Ia sebelumnya memproyeksikan aliran dana besar pasca pemberlakuan tarif resiprokal yang lebih tinggi kepada mitra dagang AS per 1 Agustus.

Menteri Bessent bahkan mengindikasikan potensi penerimaan bea masuk tahun kalender 2025 mencapai US$ 300 miliar atau sekitar Rp 4.860 triliun pada akhir Desember. Namun, Ernie Tedeschi, Direktur ekonomi Lab Anggaran Universitas Yale, mengingatkan bahwa peningkatan penuh mungkin butuh waktu, karena bisnis dan konsumen telah mengantisipasi kenaikan tarif dengan membeli barang lebih awal. Tedeschi, mantan penasihat ekonomi Gedung Putih era Biden, menambahkan, "Saya pikir ada risiko yang signifikan bahwa kita akan kecanduan pada pendapatan tarif." Setelah efek antisipasi mereda dan tarif resiprokal diterapkan, Tedeschi memproyeksikan tambahan US$ 10 miliar per bulan, sehingga total penerimaan tarif mencapai US$ 37 miliar.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *