Berita  

Rahasia Sukses Koperasi Desa Merah Putih: Tak Lagi Jadi Beban Negara!

Mahadana
Rahasia Sukses Koperasi Desa Merah Putih: Tak Lagi Jadi Beban Negara!

fixmakassar.com – Pemerintah berambisi mendirikan lebih dari 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih. Namun, proyek raksasa ini membutuhkan suntikan dana fantastis hingga Rp 400 triliun, yang direncanakan bersumber dari APBN dan pinjaman Himbara. Layaknya sebuah kapal besar yang membutuhkan banyak bahan bakar, program ini membutuhkan strategi pembiayaan yang cermat agar tak kandas di tengah jalan.

Jaya Darmawan, peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios), menyoroti pentingnya pendanaan berkelanjutan bagi koperasi. Berbeda dengan usaha lain, koperasi mengedepankan prinsip kolektivitas dan kemandirian anggota. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pembiayaan yang lebih variatif, bukan hanya mengandalkan satu sumber dana saja.

Rahasia Sukses Koperasi Desa Merah Putih: Tak Lagi Jadi Beban Negara!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Jaya mengusulkan blended finance, yaitu perpaduan harmonis antara pendanaan internal dan eksternal. Strategi ini seperti sebuah orkestra, di mana setiap instrumen musik (sumber dana) memainkan peran penting untuk menciptakan harmoni finansial yang berkelanjutan. Pendanaan eksternal bisa berasal dari investasi swasta, dana sosial, filantropi, atau pihak ketiga lainnya. Sementara pendanaan internal dapat diperoleh dari kontribusi anggota dan pemanfaatan aset bersama.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah koperasi dengan 100 anggota. Jika setiap anggota menyetor modal awal Rp 1.000.000 dan iuran bulanan Rp 100.000, koperasi akan memiliki pemasukan tetap Rp 10.000.000 per bulan. Ditambah dengan laba tahunan sebesar Rp 500 juta (dengan alokasi 30% untuk modal kerja), koperasi akan memiliki kekuatan finansial yang cukup signifikan.

Dengan modal internal yang kuat, kebutuhan pinjaman dari bank menjadi lebih kecil, misalnya hanya Rp 200 juta. Hal ini mengurangi beban bunga dan risiko keuangan. Alternatif lain, koperasi bisa mendapatkan suntikan dana dari investor sosial yang tidak mengejar keuntungan finansial semata. Hibah pemerintah dan pinjaman bersubsidi juga dapat menjadi pelengkap.

Dengan blended finance, koperasi tidak hanya terbebas dari ketergantungan pada APBN, tetapi juga mendorong partisipasi aktif anggota dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Ini adalah resep sukses untuk membangun koperasi yang tangguh dan mandiri, layaknya pohon yang kokoh berakar kuat di tanahnya.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *