fixmakassar.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan tantangan tersembunyi di balik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program yang diharapkan menjadi pelita bagi nelayan Indonesia ini ternyata berhadapan dengan batu sandungan yang cukup besar: lahan. Bayangkan, membangun sebuah desa nelayan modern membutuhkan lahan seluas satu hektar – sebuah luas yang tak mudah didapatkan.
Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya KKP, Trian Yunanda, menjelaskan bahwa kesiapan lahan merupakan kunci keberhasilan KNMP. Lahan yang dibutuhkan harus ‘bersih’ secara hukum (clear and clean), dekat dengan pelabuhan, dan tidak terisolasi. Bayangkan membangun rumah di atas pasir – pasti rapuh dan mudah runtuh. Begitu pula KNMP, tanpa lahan yang jelas status kepemilikannya, program ini akan menghadapi badai masalah di kemudian hari.

Batam, yang dibidik sebagai percontohan KNMP, juga menunjukkan tantangan yang sama. Tidak semua desa pesisir memiliki lahan yang siap pakai. Pengalaman pembangunan Kampung Nelayan Modern di Biak, Papua, menjadi bukti nyata. KKP mengalami kesulitan luar biasa dalam mendapatkan lahan yang cukup, bahkan kurang dari satu hektar pun sulit didapatkan. Keinginan KKP untuk menggunakan lahan milik desa atau pemerintah setempat tampaknya belum mudah terealisasi.
Dari 910 proposal KNMP yang telah diterima dan dianalisis, banyak yang terkendala status kepemilikan lahan yang belum jelas. KKP menginginkan lahan yang bebas dari sengketa dan klaim, namun kenyataannya tidak semua lahan yang diajukan memenuhi kriteria tersebut. Bahkan, banyak lahan yang tidak berada di daratan, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi. Tantangan ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami – sulit, tetapi harus dilakukan agar program KNMP dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi nelayan Indonesia.






