fixmakassar.com – Di tengah duka yang menyelimuti Sumatera akibat terjangan banjir bandang, Presiden Prabowo Subianto hadir membawa secercah harapan. Ia secara tegas membuka pintu selebar-lebarnya bagi uluran tangan bantuan, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, ada satu benang merah yang ditekankan: transparansi dan mekanisme yang terang benderang menjadi kunci utama.
Dalam sebuah rapat koordinasi penting di Aceh Tamiang, Prabowo menerima laporan langsung dari Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengenai gelombang niat baik dari berbagai pihak untuk mengulurkan tangan. "Jika ada pihak yang tulus ikhlas ingin membantu, sebagai manusia, kita tentu tidak akan menolak. Namun, esensinya, bantuannya harus jelas," tegas Prabowo, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden. Pernyataan ini menjadi rambu-rambu bagi setiap inisiatif bantuan.

Prabowo menjelaskan, bagi individu atau kelompok yang ingin menyumbangkan energi dan sumber daya mereka, jalur resminya adalah dengan bersurat langsung ke pemerintah pusat. Ini termasuk para diaspora, baik dari Aceh maupun Ranah Minang, yang mungkin berdomisili di Jakarta atau luar negeri, namun hati mereka tetap terpaut pada tanah kelahiran yang kini terluka. "Kalau memang dia mau bantu, umpamanya ada diaspora Aceh merasa terpanggil mau bantu Aceh, ya monggo, silakan nanti kita salurkan," imbuhnya.
Bantuan dari kancah internasional pun disambut dengan tangan terbuka, asalkan dilandasi ketulusan dan keikhlasan. Mekanisme penyalurannya akan dikoordinasikan lebih lanjut, mungkin melalui sinergi dengan Gubernur Provinsi Aceh, Sumatera Barat, atau Sumatera Utara, memastikan setiap tetes bantuan sampai pada yang berhak.
Sebagai langkah konkret, Prabowo menyarankan agar para kepala daerah dapat membuka rekening khusus penampungan dana bantuan pascabencana. Ini akan menjadi wadah resmi bagi siapa saja yang ingin menyalurkan donasi, baik dari dalam maupun luar negeri, memastikan aliran bantuan terpusat dan mudah diawasi.
Penekanan pada prosedur yang jelas ini bukan tanpa dasar. Prabowo secara jujur mengakui adanya pengalaman di masa lalu di mana bantuan terkadang datang dengan ‘benang-benang tersembunyi’ atau harapan balasan. Namun, ia mengajak semua pihak untuk membuang jauh prasangka dan fokus pada niat baik serta kecepatan dalam bertindak. "Kita harus berpikir positif. Yang terpenting adalah kita bekerja secepatnya untuk meringankan beban penderitaan rakyat kita, di manapun mereka berada," tutupnya, menggarisbawahi urgensi solidaritas.






