fixmakassar.com – Kisah pilu petani teh yang tercekik harga murah, kini berubah menjadi melodi indah harapan. Pertanyaan seorang petani, "Mengapa Anda tega sama kami?" membekas di benak Redha Taufik Ardias (34), seorang perwakilan perusahaan teh besar. Pertemuan di perkebunan teh pada 2017 itu, bak petir di siang bolong, membuka matanya pada realita pahit yang dialami para petani.
Harga teh kering yang hanya dihargai Rp 12.500 per kilogram, bagai rantai yang mengikat kesejahteraan mereka. Redha tersadar, keputusannya mencari teh semurah mungkin, berdampak langsung pada kehidupan para petani. Momen itu menjadi titik balik, memicu tekadnya untuk mengangkat martabat petani dan citra teh Indonesia.

Terinspirasi dari keprihatinan itu, Redha bersama Iriana Ekasari mendirikan Sila Artisan Tea pada 2018. Sebuah langkah berani untuk mengembalikan kejayaan teh Indonesia, bukan lagi sekadar minuman pelengkap, melainkan produk unggulan yang membanggakan. Mereka bermimpi, teh Indonesia bisa sejajar dengan merek-merek ternama di hotel bintang lima.
Sila Artisan Tea, bak oase di gurun pasir, hadir dengan inovasi, edukasi, dan branding. Nama "Sila" yang terinspirasi dari Pancasila dan Silaturahmi, menjadi simbol komitmen untuk membangun hubungan baik dan berkelanjutan dengan para petani. Mereka berkeliling Indonesia, mencari petani kecil yang bersedia belajar dan menghasilkan teh berkualitas tinggi.
"Kita bikin product name-nya, blueprint, strategy, everything. Semuanya kita kerjain. Saya riset segala macam, sampai pada keputusan, oh iya benar. Ini harus ada pembaharuan di Teh Indonesia, dan jawabannya, solusinya itu ada pada kita. Inovasi, edukasi dan branding," terang Redha.
Kini, Sila Artisan Tea bermitra dengan 25 kebun teh terbaik di Indonesia, menghasilkan 200 artikel teh yang dikurasi. Produk mereka telah merambah pasar internasional, dari Singapura hingga Amerika Serikat. Bahkan, Rumah Teh Indonesia di Bogor menjadi destinasi wisata bagi para pecinta teh dari berbagai negara.
"Banyak juga yang datang dari Arab Saudi ini ke galeri ini, karena kita punya mitra di Puncak, jadi mereka rekomendasikan datang ke sini. Atau kemarin ada perkumpulan mahasiswa dari dosen datang ke Inggris. Dari Jepang, Korea, belanja di sini, jadi ini udah kaya tempat wisata destinasi," ujarnya.
Dengan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, Sila Artisan Tea terus mengembangkan bisnisnya dan memberikan dampak positif bagi para petani teh. Redha bahkan berani menyebut, teh Indonesia lebih baik dari Thai Tea yang dianggapnya sebagai teh kualitas terburuk.
Surati, seorang petani teh di Samigaluh, Yogyakarta, merasakan langsung dampak positif dari kemitraan dengan Sila Artisan. Ia yang dulunya hanya bisa menjual 2-3 kg teh, kini mampu menghasilkan 15 kg per panen dengan harga yang jauh lebih baik.
"Dulu sebelum ada Sila, teh saya dikirim ke industri, untuk teh basah harganya Rp 1.250 per kilogram (harga itu sudah termasuk subsidi)," ungkapnya.
Kisah Sila Artisan Tea adalah bukti nyata bahwa dengan tekad dan inovasi, martabat petani teh Indonesia dapat diangkat dan citra teh Indonesia dapat bersinar di pasar global. Harapan baru merekah, secangkir teh kini bukan hanya minuman, tetapi juga simbol perjuangan dan kebanggaan.






