Berita  

Petani RI Berjaya! Daya Beli Meroket, Pecah Rekor Sejarah!

Mahadana
Petani RI Berjaya! Daya Beli Meroket, Pecah Rekor Sejarah!

fixmakassar.com – Jakarta – Kabar gembira menyelimuti sektor pertanian Indonesia, seolah mentari pagi menyinari lahan-lahan dengan harapan baru. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 melonjak signifikan hingga mencetak rekor baru, mencapai angka 125,45. Kenaikan impresif sebesar 1,50 persen dari bulan sebelumnya ini menjadi indikator kuat bahwa daya beli petani di Tanah Air semakin kokoh, memperlihatkan mereka kini memegang kunci emas untuk kesejahteraan yang lebih baik. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pun menyambut capaian ini sebagai bukti nyata keberhasilan kebijakan pemerintah.

NTP, sebuah barometer vital yang mengukur perbandingan antara harga yang diterima petani dengan harga yang harus mereka bayar untuk kebutuhan hidup dan produksi, kini menunjukkan performa terbaiknya. Angka di atas 100 menandakan bahwa petani mampu menukarkan hasil panennya dengan barang dan jasa yang mereka butuhkan secara lebih menguntungkan. "Capaian ini adalah rekor baru, sebuah cerminan bahwa kebijakan yang kita gulirkan di lapangan mulai berbuah manis dan dirasakan langsung oleh para petani," tegas Amran, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya pada Selasa (3/3/2026), seraya mengaitkan capaian ini dengan rangkaian deregulasi, efisiensi anggaran, dan transformasi pertanian menuju sistem modern.

Petani RI Berjaya! Daya Beli Meroket, Pecah Rekor Sejarah!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan lebih lanjut bahwa lonjakan NTP ini tak lepas dari peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang melaju lebih kencang dibandingkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). "Pada Februari 2026, NTP kita tercatat 125,45, naik 1,50 persen dari Januari. Ini jelas menunjukkan ada perbaikan daya beli petani secara umum," papar Ateng.

Ateng merinci, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) melesat 2,17 persen menjadi 158,38. Komoditas seperti cabai rawit, karet, kelapa sawit, dan bawang merah menjadi pahlawan di balik lonjakan harga jual ini, seolah menjadi mesin pendorong utama. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga naik, namun dengan laju yang lebih moderat, yakni 0,65 persen menjadi 126,24. Kenaikan biaya ini dipicu oleh harga cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras, yang sedikit menggerus keuntungan namun tidak sampai membalikkan keadaan.

Lebih dalam lagi, hampir seluruh subsektor pertanian ikut merasakan angin segar kenaikan NTP. Subsektor hortikultura menjadi bintang utama dengan kenaikan fantastis 16,68 persen, melesat dari 119,62 pada Januari menjadi 139,57 pada Februari. Subsektor tanaman perkebunan rakyat juga naik tipis 0,24 persen, peternakan melonjak 1,68 persen, dan perikanan menguat 0,72 persen – dengan NTP nelayan naik 0,35 persen dan pembudidaya ikan merangkak naik 1,32 persen.

Namun, tidak semua kapal berlayar mulus. Subsektor tanaman pangan menjadi satu-satunya yang mengalami sedikit guncangan, turun 0,88 persen dari 113,43 pada Januari menjadi 112,43 pada Februari 2026. Meskipun demikian, secara keseluruhan, potret daya beli petani Indonesia tampak lebih cerah, menandakan fondasi ekonomi pedesaan yang semakin kuat.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *