fixmakassar.com – Kabar mengejutkan datang dari Rusia! Usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di St. Petersburg, tawaran kerja sama nuklir untuk Indonesia pun mencuat. Seperti buah yang ranum siap dipetik, tawaran ini langsung direspons oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Namun, jalan menuju pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ternyata tak semulus jalan tol.
Airlangga menjelaskan, rencana pembangunan PLTN berkapasitas 500 megawatt memang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Namun, langkah selanjutnya adalah studi kelayakan (feasibility study) yang akan menentukan kelanjutan proyek ambisius ini. "Kita feasibility study dulu. Cuma dalam RUPTL kan ada pembangunan nuklir 500 megawatt pertama, kita studi feasibilty-nya dulu untuk small modular-nya," jelas Airlangga. Ia menambahkan bahwa ini seperti membangun rumah, tanpa pondasi yang kuat, bangunannya bisa roboh.

Tawaran kerjasama dari Putin sendiri terbilang komprehensif. Tidak hanya sebatas PLTN, Rusia juga menawarkan pemanfaatan teknologi nuklir untuk bidang kesehatan dan pertanian. Putin menegaskan, kerjasama ini murni untuk tujuan damai, jauh dari bayang-bayang senjata nuklir. "Kami terbuka untuk kerjasama dengan mitra Indonesia di bidang nuklir. Kami berkeinginan untuk merealisasikan proyek nuklir di bidang perdamaian. Termasuk untuk bidang kesehatan dan pertanian," ujar Putin dalam keterangan pers.
Lebih lanjut, Putin juga menunjukkan minat untuk memperluas kerjasama teknologi canggih dengan Indonesia, meliputi eksplorasi ruang angkasa, pembangunan smart city, dan pengembangan kecerdasan buatan. Ini seperti membuka lembaran baru dalam hubungan bilateral kedua negara, dengan teknologi sebagai jembatannya. Proyek ini akan menjadi langkah besar bagi Indonesia, namun perlu kajian mendalam sebelum langkah nyata diambil.






