fixmakassar.com – Jakarta – Suasana Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat, tampaknya tak seceria tahun-tahun sebelumnya bagi para pedagang parsel musiman. Kios-kios yang biasanya ramai diserbu pembeli kini terasa lengang, menyisakan tumpukan parsel yang tak terjual. Pertanyaan besar pun muncul: apa nasib hadiah-hadiah yang tak menemukan pemiliknya ini?
Berbagai jenis parsel, mulai dari aneka kue kering dan makanan lezat hingga perabot pecah belah seperti gelas dan piring cantik, mengisi etalase. Namun, sepinya pembeli membuat banyak dagangan tertahan. Para pedagang pun harus memutar otak mencari solusi agar modal tidak tergerus begitu saja, serupa nahkoda yang mencari arah di tengah badai sepi pembeli.

Agus, salah satu pedagang yang menjajakan parsel makanan dan pecah belah, mengungkapkan bahwa parsel pecah belah tidak terlalu menjadi momok. "Kalau yang pecah belah ini aman, Mas. Kan enggak ada expired-nya, jadi bisa disimpan buat dijual lagi nanti," ujarnya kepada fixmakassar.com pada Rabu (24/12/2025). Ia mengibaratkan parsel pecah belah seperti investasi jangka panjang yang sabar menanti waktu panen, tak lekang oleh waktu dan selalu punya nilai jual.
Lain halnya dengan parsel makanan. Untuk jenis ini, Agus punya strategi khusus. Ia selalu memilih produk dengan masa kedaluwarsa yang panjang. Tujuannya jelas, agar parsel-parsel tersebut bisa "bernafas lebih lama" dan memiliki kesempatan kedua untuk terjual di periode penjualan berikutnya, seperti menjelang bulan puasa atau Lebaran. "Kalau kue-kue yang masa expirednya lama bisa disambung lagi buat lebaran nanti. Kan nggak jauh nih jaraknya," jelasnya, menunjukkan kalkulasi cerdiknya dalam mengelola stok.
Namun, jika skenario terburuk terjadi dan parsel makanan tetap tak laku di periode selanjutnya, Agus punya solusi pamungkas yang sederhana: "Kalau nggak laku ya dimakan aja sendiri," katanya sambil tersenyum, mengubah potensi kerugian menjadi santapan pribadi yang tak terbuang percuma.
Strategi yang lebih pragmatis dianut oleh Nendi, pedagang yang sudah tiga dekade malang melintang di dunia parsel. Ia memilih fokus hanya pada parsel pecah belah. "Kita kan bukan orang yang ada (punya uang banyak) ya, jadi khusus satu aja," ungkapnya. Baginya, berjualan parsel pecah belah adalah cara paling aman dan minim risiko. Ia tak perlu pusing memikirkan masa kedaluwarsa atau potensi kerugian besar. Parsel pecah belah baginya adalah "jangkar yang kokoh" di tengah gelombang ketidakpastian pasar, selalu bisa diandalkan untuk dijual kembali di kemudian hari.
Kisah para pedagang di Pasar Kembang Cikini ini menjadi cerminan adaptasi dan kegigihan di tengah tantangan ekonomi, membuktikan bahwa setiap masalah selalu ada jalan keluarnya, sekecil apa pun itu. Mereka adalah potret nyata semangat wirausaha yang tak pernah padam, meski dihadapkan pada sepinya pembeli.






