fixmakassar.com – Jakarta – Kabar penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) telah mengirimkan gelombang kekhawatiran di kalangan perusahaan-perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Amerika Latin. Peristiwa ini bukan sekadar pergolakan politik biasa; ia adalah sebuah sinyal kuat dari Washington yang bertekad menegaskan kembali dominasinya di kawasan yang selama ini dianggap sebagai halaman belakangnya. Bagi investor Tiongkok, penangkapan ini bagaikan badai yang tiba-tiba menerjang, mengancam stabilitas investasi mereka.
Kecemasan ini muncul di tengah manuver agresif Paman Sam untuk membatasi jejak Tiongkok, terutama di sektor-sektor vital seperti sumber daya strategis, infrastruktur, dan perdagangan. "Tidak diragukan lagi bahwa gaya Doktrin Monroe ala Trump secara langsung diarahkan untuk menahan pengaruh China yang terus tumbuh di Amerika Latin," terang Wang Yiwei, Direktur Institute of International Affairs di Universitas Renmin, seperti dikutip dari South China Morning Post pada Selasa (6/1/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Washington melihat kehadiran Beijing sebagai saingan yang perlu dibendung.

Wang menambahkan, AS kini memainkan catur geopolitik dengan strategi yang terukur namun berintensitas rendah. Mereka berupaya mengencangkan cengkeraman pada mineral strategis, jalur pelayaran, serta infrastruktur pelabuhan di negara-negara kunci seperti Venezuela, baik secara langsung maupun melalui entitas perusahaan. "Ini langkah jelas untuk mengikis pengaruh China dan melemahkan Inisiatif Belt and Road," imbuhnya, menggambarkan upaya AS seperti memotong akar-akar pohon yang sedang tumbuh subur di wilayah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran Tiongkok di Amerika Tengah dan Selatan memang melesat bak roket. Investasi masif di sektor energi, pelabuhan, dan mineral strategis telah menjadikan Beijing pemain kunci di wilayah tersebut, menciptakan gesekan yang tak terhindarkan dengan AS yang merasa "wilayahnya" dimasuki. Gurita bisnis Tiongkok telah merambah berbagai sektor, dari pertambangan hingga pembangunan jalan, menjalin kemitraan ekonomi yang erat dengan banyak negara di sana.
Gesekan ini mencapai puncaknya setelah penggulingan Maduro. Presiden AS Donald Trump dengan tegas menyatakan dalam konferensi pers, "Dominasi Amerika di belahan bumi barat tidak akan pernah lagi dipertanyakan." Sebuah pernyataan yang menggarisbawahi tekad Washington untuk menjadi satu-satunya dirigen di orkestra Amerika Latin, tanpa ada pemain lain yang mengganggu simfoni kekuasaannya.
Dengan demikian, penangkapan Maduro bukan hanya sebuah episode politik di Venezuela, melainkan babak baru dalam pertarungan hegemoni global antara AS dan Tiongkok. Bagi investor Tiongkok, masa depan di Amerika Latin kini diselimuti kabut ketidakpastian, memaksa mereka untuk lebih waspada di tengah gelombang geopolitik yang bergejolak.






