fixmakassar.com – Gejolak di Timur Tengah bak gelombang tsunami yang mengancam ekonomi Indonesia. Konflik Israel-Iran yang memanas, menurut para ekonom, bukan sekadar pertarungan militer, melainkan juga pertempuran ekonomi global yang berdampak signifikan bagi Indonesia. Bayangan resesi global menghantui, mengancam pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan bahwa investor akan cenderung bersikap "wait and see," sebuah sikap menunggu dan mengamati situasi yang menciptakan ketidakpastian di pasar. Hal ini akan memperlambat perdagangan global, menekan pertumbuhan ekonomi dunia, dan memicu inflasi yang semakin menggila. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak, semakin memperparah keadaan. Jika hal ini terjadi, harga komoditas energi akan meroket bak roket yang diluncurkan.

"Harga komoditas, terutama energi, berpotensi melonjak tajam jika Selat Hormuz ditutup. Sementara itu, permintaan komoditas lain bisa menurun karena perlambatan ekonomi," jelas Wijayanto. Ia menambahkan, defisit fiskal Indonesia akan semakin melebar, nilai tukar rupiah tertekan, dan pembiayaan utang negara menjadi semakin sulit. Situasi ini bak perahu bocor di tengah badai.
Untuk menghadapi badai ini, Wijayanto mendesak pemerintah untuk memastikan program kerja yang efektif, tepat sasaran, dan efisien. Fokus utama harus diarahkan pada program penciptaan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat. Manajemen utang juga perlu lebih disiplin, dan ketahanan energi harus diprioritaskan melalui kerja sama jangka panjang dengan negara produsen minyak serta percepatan transisi energi ke energi baru dan terbarukan (EBT).
Senada dengan Wijayanto, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan. Lonjakan biaya impor BBM akan memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat yang sudah lesu. "Ini bukan inflasi yang baik," tegas Bhima. Jika perang berlarut, target pertumbuhan ekonomi 5% akan semakin sulit dicapai.
Situasi ini menuntut pemerintah untuk bergerak cepat dan tepat. Bukan hanya sekadar mengawasi, tapi juga membuat strategi jitu untuk melindungi ekonomi Indonesia dari dampak negatif konflik Israel-Iran. Pertaruhannya bukan hanya angka-angka ekonomi, tapi juga kesejahteraan rakyat Indonesia.






