fixmakassar.com – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, angkat bicara terkait isu mengkhawatirkan: dugaan ratusan ribu ton beras Bulog terancam dibuang karena kualitasnya menurun. Seperti bom waktu yang siap meledak, isu ini langsung menjadi sorotan publik. Namun, Rizal dengan tegas membantahnya. Ia menyatakan, beras di gudang Bulog umumnya dalam kondisi prima, jauh dari kata rusak atau turun mutu. "Saya sendiri sudah mengajak rekan-rekan media melihat langsung ke gudang. Ada yang rusak? Tidak ada!" tegasnya di Grand Lucky, Jakarta Selatan, Minggu (14/9/2025).
Meskipun begitu, Rizal mengakui, tak mungkin 100% beras terbebas dari kerusakan. Ia menyamakannya dengan sebuah taman yang luas: "Seperti taman yang terawat sekalipun, pasti ada saja daun yang gugur." Namun, ia menekankan komitmen Bulog untuk selalu menyajikan beras berkualitas terbaik bagi masyarakat. Proses seleksi yang ketat diterapkan, menggunakan sistem first in, first out dan first expired, first out, untuk memastikan beras yang disalurkan selalu layak konsumsi.

Terkait keluhan soal tekstur beras SPHP yang pera, Rizal menjelaskan hal itu memang sesuai varietas padinya. "Ini soal selera, seperti memilih kopi; ada yang suka robusta, ada yang suka arabika," ujarnya. Ia juga menjelaskan proses seleksi yang ketat untuk menyisihkan beras yang sudah menguning atau menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas.
Namun, isu ini bukannya tanpa dasar. Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, sebelumnya mengungkapkan kekhawatirannya akan 100 ribu ton beras impor sisa tahun lalu yang terancam dibuang karena penurunan mutu. Andreas memperkirakan potensi kerugian negara mencapai Rp 1,2 triliun. "Ini seperti kapal karam yang membawa beban kerugian besar bagi negara," ujarnya dalam diskusi publik di Ombudsman RI, Selasa (26/8/2025). Andreas juga menyebutkan adanya lebih dari 1 juta ton beras impor yang belum didistribusikan, menambah kekhawatiran akan potensi pemborosan yang lebih besar.
Bulog sendiri menjelaskan bahwa setiap beras yang masuk gudang diperiksa, dipantau secara berkala, dan ditangani dengan tindakan pengendalian hama jika diperlukan. Jika ditemukan penurunan kualitas, berbagai langkah korektif diambil, dari pemisahan hingga pengolahan dengan mesin modern. Pernyataan ini tentu saja menjadi kunci untuk menenangkan publik dan memastikan cadangan pangan nasional tetap aman. Namun, transparansi dan pengawasan ketat tetap diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.






