Berita  

Harga Beras Meroket, Padahal Gudang Bulog Menggunduk! Apa yang Terjadi?

Mahadana
Harga Beras Meroket, Padahal Gudang Bulog Menggunduk! Apa yang Terjadi?

fixmakassar.com – Kenaikan harga beras bak bom waktu yang meledak di tengah melimpahnya stok. Fenomena ini membuat banyak pihak bertanya-tanya, seperti teka-teki yang sulit dipecahkan. Anggota Komisi IV DPR RI, Robert J Kardinal, mengingatkan pemerintah untuk segera bertindak cepat. Harga beras medium nasional mencapai Rp 14.073 per kg, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 12.500 per kg. Kondisi serupa terjadi pada beras premium, dengan harga rata-rata Rp 15.847 per kg, sementara HET-nya Rp 14.900 per kg. Beberapa daerah bahkan sudah masuk kategori waspada, termasuk Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, Gorontalo, dan Papua Barat.

Robert menilai situasi ini janggal. Produksi beras meningkat, stok di Perum Bulog melimpah (lebih dari 3 juta ton), namun harga tetap merangkak naik. "Logika ekonomi terbalik," ujarnya, "Seharusnya dengan surplus, harga stabil bahkan di bawah HET." Ia mendesak Kementerian Pertanian, Perum Bulog, dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk segera mendistribusikan beras untuk Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) dan melakukan investigasi lapangan menyeluruh untuk mencari akar masalahnya.

Harga Beras Meroket, Padahal Gudang Bulog Menggunduk! Apa yang Terjadi?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Senada, Khudori dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) menyebut fenomena ini sebagai "asimtri harga"—harga di produsen turun, di konsumen naik. Ia menuding gangguan pasokan sebagai biang keladinya. Data BPS menunjukkan produksi beras Januari-Juni 2025 mencapai 18,76 juta ton, dengan potensi surplus sekitar 3,2 juta ton. Namun, Bulog baru menyalurkan 181 ribu ton dari total penyerapan 2,63 juta ton. Sisanya menumpuk di gudang, menjadi "gunung beras" yang tak kunjung sampai ke masyarakat.

Khudori pun menyoroti kebijakan pemerintah yang perlu dievaluasi. Ia menekankan pentingnya penyaluran segera beras stok Bulog dan bantuan pangan beras yang telah diputuskan, bersamaan dengan operasi pasar SPHP. "Jangan sampai beras itu menjadi beban keuangan negara, sementara rakyat kesulitan," tegasnya. Situasi ini ibarat sebuah kapal yang sarat muatan, namun tetap terombang-ambing di tengah laut, membutuhkan navigasi yang tepat agar sampai ke tujuan.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *