Berita  

Geger! Nasib Alfamart-Indomaret di Desa, Dua Menteri Turun Gunung!

Mahadana

fixmakassar.com – Panggung politik perdagangan nasional siap menjadi saksi pertemuan penting antara dua pembantu presiden. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dijadwalkan akan bertemu empat mata dengan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDT), Yandri Susanto. Pertemuan ini dipicu oleh wacana pembatasan ekspansi ritel modern raksasa seperti Alfamart dan Indomaret, sebuah isu yang mencuat seiring dengan gencar-gencarnya pemerintah membuka Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di berbagai pelosok negeri.

Mendag Budi Santoso, saat ditemui di Jakarta pada Selasa (24/2/2026), mengungkapkan niatnya untuk meminta penjelasan langsung dari Mendes Yandri. "Saya rencananya ketemu Pak Mendes. Saya belum tahu maksudnya seperti apa (pembatasan ekspansi). Saya dengan Pak Mendes tadi memang mau janjian, ada acara lain. Sekalian saya mau nanya itu, seperti apa maksudnya?" ujar Budi, mengindikasikan bahwa pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah jembatan untuk memahami lebih dalam arah kebijakan yang sedang digodok.

Geger! Nasib Alfamart-Indomaret di Desa, Dua Menteri Turun Gunung!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Di kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, memberikan perspektif yang menenangkan. Menurut Iqbal, pengaturan ritel modern sebenarnya telah memiliki payung hukum yang kuat, tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) maupun Undang-Undang (UU). Lebih lanjut, pemerintah daerah (Pemda) juga memiliki kewenangan untuk mengatur zonasi ekspansi ritel modern di wilayahnya.

Iqbal meyakini bahwa ekspansi ritel modern tidak akan mengganggu keberadaan Kopdes di desa. Ia menjelaskan, ritel modern berjejaring cenderung menancapkan kakinya di wilayah-wilayah yang dekat dengan perkotaan. Alasannya jelas, mereka menghitung demografi dan pendapatan penduduk secara cermat sebelum membuka gerai baru. "Ritel modern itu kebanyakan dari sekian puluh ribu retail modern, terutama retail modern yang berjejaring, itu masih ditempatkan di perkotaan… Jadi sampai sekarang kita masih jarang sekali menemukan retail modern yang berjejaring, itu ada di desa-desa. Jadi saya pikir nggak ada masalah," ungkap Iqbal.

Menurutnya, ritel modern dan koperasi ibarat dua jalur yang berbeda namun bisa berjalan beriringan. Keduanya memiliki pangsa pasar yang berbeda, sehingga persaingan yang sehat dapat terwujud. Koperasi, khususnya Kopdes, lebih mengutamakan produk-produk hasil UMKM lokal, menjadi etalase bagi kreativitas dan potensi desa. Sementara itu, ritel modern, hampir 90% menjajakan produk hasil pabrikan. "Pasarnya sudah ada masing-masing," pungkas Iqbal, menegaskan bahwa setiap entitas memiliki ladang garapannya sendiri, dan pasar yang tersegmen ini menjadi benteng alami dari potensi gesekan.

Pertemuan antara Mendag Budi Santoso dan Mendes Yandri Susanto ini diharapkan menjadi kompas yang akan memberikan kejelasan arah kebijakan pemerintah terkait harmonisasi antara pertumbuhan ritel modern dan penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi desa.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *