fixmakassar.com – Garuda Indonesia mendapatkan angin segar berupa kucuran dana Rp23,7 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Suntikan modal ini diharapkan menjadi bahan bakar untuk memulihkan kondisi keuangan maskapai pelat merah tersebut dan kembali terbang tinggi di angkasa persaingan global.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto, menjelaskan bahwa dana ini berasal dari pinjaman pemegang saham (Shareholder Loan) sebesar US$405 juta dan penyertaan modal tunai US$1 miliar. Dukungan ini, kata Thomas, menjadi titik balik bagi Garuda Indonesia yang tengah fokus pada akselerasi transformasi penyehatan kinerja.

Dana segar ini akan diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, seperti perbaikan dan perawatan pesawat Citilink (47% atau sekitar Rp11,2 triliun) dan Garuda Indonesia (37% atau Rp8,7 triliun). Selain itu, sebagian dana akan digunakan untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang Citilink kepada Pertamina sebesar US$225 juta.
Per November 2025, berkat dukungan pemegang saham, Garuda Indonesia telah mengoperasikan 58 pesawat dan Citilink 32 pesawat, total 90 pesawat. Jumlah ini meningkat signifikan dari posisi Juli 2025, ketika Citilink baru mengoperasikan 21 unit dan Garuda 56 unit.
Selain suntikan dana, Garuda Indonesia juga menggenjot kemitraan strategis, monetisasi kargo, dan peningkatan pendapatan. "Secara internal, kami juga sedang menjalankan reformasi organisasi, digitalisasi proses, serta inisiatif peningkatan customer journey dan governance. Biaya-biaya perusahaan akan kita monitor dengan lebih dekat lagi, dan kita minta seluruh jajaran untuk bisa lebih lincah, efisien, dan berorientasi pada hasil," terang Thomas.
Dengan tambahan armada dan strategi yang dijalankan, Garuda Indonesia berharap dapat kembali mengangkasa dan memberikan kontribusi positif bagi industri penerbangan nasional.






