Berita  

Gaji Ludes Buat Ongkos? Kisah Pilu Karyawan Jakarta!

Mahadana
Gaji Ludes Buat Ongkos? Kisah Pilu Karyawan Jakarta!

fixmakassar.com – Jakarta bagai magnet raksasa yang menyedot jutaan pekerja dari berbagai penjuru. Namun, di balik gemerlap Ibu Kota, tersimpan cerita pahit para pejuang rupiah yang setiap hari berjibaku dengan ongkos transportasi yang menggerus gaji. Seperti Rifaldo (26), seorang pekerja di Blok M yang setiap harinya harus berjuang melawan arus lalu lintas dan biaya transportasi yang seakan tak pernah berhenti mengalir.

Rifaldo, yang berdomisili di Bekasi, merasakan beban ganda: beban pekerjaan dan beban finansial. Perjalanannya ke kantor bagaikan sebuah petualangan panjang. Ia memulai hari dengan bus feeder gratis, sebuah keberuntungan kecil di tengah badai biaya. Namun, perjalanan selanjutnya menelan biaya yang cukup signifikan. Ia harus mengeluarkan Rp 10.000 untuk LRT Jabodetabek menuju Stasiun Dukuh Atas, kemudian melanjutkan perjalanan dengan MRT Jakarta hingga Blok M. Total biaya transportasi sekali jalan bisa mencapai Rp 20.000 jika ia berangkat di jam kerja, namun berkurang menjadi Rp 10.000 jika di luar jam kerja.

Gaji Ludes Buat Ongkos? Kisah Pilu Karyawan Jakarta!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sehingga, dalam sebulan, Rifaldo harus merogoh kocek hingga Rp 912.000 hanya untuk ongkos pulang pergi. Belum lagi jika ia pulang malam, ia harus menambah biaya ojek online hingga Rp 28.000. Bayangan gaji yang menipis bagaikan air yang menetes dari keran yang bocor. Situasi ini semakin berat karena gajinya masih di bawah UMP Jakarta, mengingat statusnya sebagai peserta pelatihan kerja. Gaji yang didapat seperti layaknya setetes embun di padang pasir yang luas.

Kisah serupa juga dialami Raju (27), seorang pekerja di perusahaan asuransi yang tinggal di Cikarang. Ia memilih menggunakan motor ke stasiun KRL terdekat, lalu melanjutkan perjalanan dengan KRL hingga Stasiun Sudirman seharga Rp 6.000 sekali jalan. Meskipun ia berjalan kaki dari stasiun ke kantor, ia tetap harus menanggung biaya bensin dan parkir motor, sehingga total biaya transportasi per hari mencapai Rp 50.000. Dalam sebulan, ongkos transportasi Raju mencapai Rp 1.000.000. Ia pun harus berhemat, mencari makan siang di warung-warung murah agar tetap bisa bertahan. Kisah mereka berdua menjadi cerminan betapa mahalnya hidup di Jakarta bagi para pekerja yang berasal dari luar kota. Mereka bagaikan pelaut yang berjuang melawan ombak biaya hidup yang begitu tinggi.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *