Produsen mobil mewah legendaris Inggris, Aston Martin, tengah menghadapi turbulensi ekonomi yang memaksa mereka mengambil keputusan drastis. Sebuah pengumuman pahit baru-baru ini mengguncang internal perusahaan: pemangkasan jumlah karyawan secara besar-besaran, sebuah langkah krusial demi mengarungi lautan kerugian yang kian dalam.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 20% dari total tenaga kerja, atau setara 500 individu berharga, harus rela melepas seragam kebanggaan mereka. Angka ini menambah daftar panjang pemangkasan setelah 170 karyawan sebelumnya juga dirumahkan. Targetnya jelas: menghemat sekitar 40 juta pound sterling, atau jika dikonversi, mencapai angka fantastis Rp 905 miliar (kurs Rp 22.643/pound sterling).

Keputusan memilukan ini bukan tanpa alasan. Laporan keuangan Aston Martin bak cermin yang memantulkan kondisi kurang menguntungkan. Kerugian sebelum pajak pada tahun 2025 melonjak drastis menjadi 363,9 juta pound sterling, jauh melampaui 289,1 juta pound sterling di tahun sebelumnya. Sebuah sinyal merah yang tak bisa diabaikan.
Lantas, siapa dalang di balik badai finansial ini? Beberapa faktor utama menjadi biang keladi. Kenaikan tarif impor di Amerika Serikat menjadi salah satu ganjalan besar, menciptakan tembok penghalang bagi produk-produk mewah mereka. Ditambah lagi, permintaan global yang lesu, terutama dari Tiongkok, pasar yang selama ini menjadi lumbung emas bagi produsen mobil mewah. Pelemahan ekonomi Negeri Tirai Bambu dan perubahan aturan tarif mobil mewah di sana secara signifikan mengerem laju penjualan.
Para investor pun tak tinggal diam. Mereka sudah membaca tanda-tanda awan gelap ini jauh-jauh hari, setelah fixmakassar.com mencatat, perusahaan telah mengeluarkan peringatan laba kelima sejak September 2024. Bahkan, demi menjaga stabilitas, Aston Martin sampai menjual hak penamaan permanen tim Formula Satu mereka, sebuah indikasi bahwa tekanan finansial memang sangat berat.
Adrian Hallmark, Kepala Eksekutif Aston Martin, mengakui bahwa langkah PHK ini memang berat, namun merupakan bagian integral dari strategi penyesuaian ukuran perusahaan. "Proses pengurangan jumlah karyawan sudah berjalan, dan hal itu penting untuk membuat kita lebih efisien dan efektif di masa depan," tegas Adrian, menekankan urgensi dari keputusan ini.
Keputusan ini menjadi pengingat pahit bahwa bahkan raksasa otomotif sekalipun tak luput dari gejolak ekonomi global. Aston Martin kini berjuang keras untuk menemukan pijakan baru di tengah badai yang belum reda.






