Berita  

BGN Ungkap Modus Licik ‘Ternak Yayasan’ di MBG: Cuan di Atas Gizi!

Mahadana
BGN Ungkap Modus Licik 'Ternak Yayasan' di MBG: Cuan di Atas Gizi!

fixmakassar.com – Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi oase penyejuk bagi masyarakat, kini terancam keruh oleh ulah segelintir pihak tak bertanggung jawab. Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini membongkar modus licik yang disebut "ternak yayasan", di mana sejumlah oknum pengusaha memanfaatkan program mulia ini sebagai ladang bisnis pribadi, jauh dari semangat kemanusiaan yang diusungnya.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengungkapkan fenomena ini. Menurutnya, para pengusaha tersebut sengaja mendirikan banyak yayasan fiktif atau yang baru dibentuk hanya untuk mengelola sejumlah besar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG. Tujuannya tunggal: meraup keuntungan finansial semata, menjadikan gizi anak bangsa sebagai komoditas.

BGN Ungkap Modus Licik 'Ternak Yayasan' di MBG: Cuan di Atas Gizi!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Padahal, di awal pelaksanaannya, pemerintah membuka pintu kemitraan bagi lembaga yang ingin berkontribusi, dengan prioritas utama diberikan kepada yayasan yang berfokus pada pendidikan, sosial, dan keagamaan. Kebijakan ini, terang Nanik, bertujuan untuk memberdayakan lembaga-lembaga sosial yang selama ini telah berjuang membantu masyarakat, sekaligus memberikan mereka dukungan untuk memperbaiki fasilitas.

"Di awal, mitra harus dalam bentuk yayasan pendidikan, sosial, atau keagamaan," kata Nanik dalam keterangannya, seperti dikutip fixmakassar.com. Namun, desakan dan target tinggi untuk segera merealisasikan program MBG di lapangan, membuka celah bagi modus "ternak yayasan" ini. "Banyak orang kini memiliki lebih dari satu dapur MBG, melenceng dari relnya," imbuh Nanik.

Kondisi ini, lanjut Nanik, tidak hanya berpotensi menimbulkan kecemburuan di antara mitra yang tulus, tetapi juga mengikis esensi program. Dapur-dapur yang dikelola dengan orientasi bisnis seringkali mengabaikan standar fasilitas dan operasional. "Secara kepemilikan, ini membuat iri karena yang muncul adalah pengusaha berkedok yayasan. Fasilitas seperti AC atau penggantian peralatan rusak pun sulit dipenuhi karena hitung-hitungannya murni bisnis," jelasnya, menggambarkan bagaimana profit menjadi mata uang di atas kemanusiaan.

Menyikapi temuan ini, Nanik menegaskan BGN tidak akan tinggal diam. Evaluasi ketat akan terus dilakukan terhadap seluruh mitra penyelenggara Program MBG. Ia mengingatkan, kontrak kerja sama hanya berlaku satu tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi yang komprehensif. "Mereka lupa, kontrak hanya satu tahun. Artinya, sewaktu-waktu kita bisa sudahi kerja sama," tegas Nanik dengan nada serius.

"Kita akan luruskan lagi ke khitahnya bahwa MBG bukan bisnis, tapi program kemanusiaan, investasi sosial. Kalau ada yang otaknya cuma mikir duit, nanti kita hapus. Ada saatnya pasti mereka akan habis karena akan kita evaluasi, evaluasi, evaluasi terus," ancamnya, menunjukkan komitmen BGN tak akan goyah seperti karang di tengah badai.

Nanik juga mengingatkan para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk selalu berpegang pada pedoman teknis dan standar operasional yang telah ditetapkan. "Kalian sebagai kepala SPPG berjalanlah di koridor yang benar. Jalankan juknis, jalankan SOP," pungkasnya, menekankan pentingnya integritas dalam menjalankan amanah.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *