fixmakassar.com – Penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digadang-gadang jadi juru selamat harga beras, ternyata baru mencapai 603 ribu ton hingga 10 November lalu. Angka ini bak setetes air di gurun pasir, jauh dari target 1,5 juta ton yang dicanangkan sepanjang tahun.
Namun, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, tak ingin publik panik. Ia menegaskan bahwa Bulog terus berupaya keras menjaga kualitas beras, dari gudang hingga sampai ke tangan masyarakat. "Dengan penyerapan produksi dalam negeri yang sudah tembus 3 juta ton, kami pastikan beras yang diterima masyarakat adalah beras layak konsumsi dan sehat," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Bulog menerapkan standar ketat dalam pemeliharaan beras. Mulai dari inspeksi awal, pengawasan harian, hingga tindakan cepat jika ditemukan tanda-tanda penurunan kualitas. Prinsip FIFO (First In, First Out) dan FEFO (First Expired, First Out) juga diterapkan agar stok beras terus berputar dan tidak menumpuk.
Sebelum beras SPHP sampai ke pasar, Bulog melakukan pengecekan ulang kualitas secara kualitatif dan kuantitatif. "Prinsip kami jelas, negara harus memberikan yang terbaik untuk rakyatnya," tegas Rizal. Ia menambahkan, Bulog berkomitmen penuh menjaga kualitas beras, menjaga nama baik negara, dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi, Bulog berencana menerapkan metode penyimpanan Cocoon pada tahun 2026. Teknik ini menggunakan sungkup plastik kedap udara untuk mengontrol kadar karbondioksida dan meminimalkan oksigen, sehingga dapat menghambat pertumbuhan hama tanpa pestisida kimiawi.
Penyaluran beras SPHP dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari pengecer di pasar rakyat, koperasi desa, hingga ritel modern. Rizal menjelaskan, pendekatan kolaborasi pentahelix ini memungkinkan Bulog mempercepat distribusi beras dan memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia. Dengan sistem pengawasan yang ketat, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan penuh pemerintah, Bulog memastikan stok beras nasional tetap aman, berkualitas, dan siap disalurkan kapan pun diperlukan untuk menjaga stabilitas pangan di seluruh Indonesia.






