Berita  

Bencana Ekonomi Menanti? Perang Timur Tengah Ancam PHK Massal RI!

Mahadana
Bencana Ekonomi Menanti? Perang Timur Tengah Ancam PHK Massal RI!

fixmakassar.com – Presiden Partai Buruh sekaligus Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengeluarkan peringatan keras. Menurutnya, potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran bagaikan sumbu api yang siap menyulut badai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Indonesia. Sebuah ramalan suram yang patut dicermati, mengingat dampak domino yang bisa ditimbulkannya.

Dalam konferensi pers daring yang digelar baru-baru ini, Said Iqbal menjelaskan bahwa gejolak di Timur Tengah sudah mulai menunjukkan taringnya. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global, adalah salah satu ancaman nyata. Jika ini terjadi, harga minyak mentah dunia dipastikan melambung tinggi, menyeret harga bahan bakar minyak (BBM) domestik ikut merangkak naik. "Perang Iran dengan Amerika Serikat plus Israel, itu harga minyak akan melambung tinggi, Selat Hormuz sudah ditutup. Kalau harga minyak melambung tinggi, BBM di Indonesia naik tinggi," tegas Said, seperti dikutip dari fixmakassar.com.

Bencana Ekonomi Menanti? Perang Timur Tengah Ancam PHK Massal RI!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kenaikan harga BBM di dalam negeri, lanjut Said, akan memicu efek domino yang mengkhawatirkan. Seluruh sektor industri akan merasakan dampaknya, mulai dari membengkaknya biaya produksi hingga ongkos logistik yang tak terhindarkan. Konsekuensinya, harga jual barang dan jasa di pasaran akan ikut melambung, sebuah beban berat bagi masyarakat, apalagi menjelang momen krusial seperti Lebaran. "BBM naik tinggi akan menambah beban ongkos transportasi dan biaya logistik. Konsekuensinya, production cost atau biaya produksi perusahaan naik. Kalau biaya produksi perusahaan naik, maka harga jual barang akan naik. Terjadilah nanti peningkatan harga-harga barang," paparnya.

Lebih jauh, Said Iqbal juga menyoroti gangguan pada rantai pasok industri dalam negeri. Perang di Timur Tengah bisa menjadi tembok penghalang bagi impor bahan baku esensial. Ambil contoh kapas dari Amerika atau Australia, yang harganya akan melonjak drastis akibat hambatan pengiriman. Kondisi ini akan membuat biaya produksi pabrik tekstil dan garmen di Indonesia membengkak tak terkendali. Dalam kondisi terjepit, efisiensi menjadi pilihan pahit, yang seringkali berujung pada pemutusan hubungan kerja.

Tak hanya itu, sektor ekspor Indonesia pun tak luput dari ancaman. Produk-produk unggulan kita yang ditujukan ke pasar Amerika, Eropa, atau Timur Tengah, akan kesulitan menembus gerbang perdagangan selama konflik berkecamuk. Akibatnya, penumpukan barang di gudang-gudang pabrik tak terhindarkan, memaksa perusahaan melakukan efisiensi produksi yang lagi-lagi mengorbankan para pekerja. "Jadi ujungnya tetap PHK," tegas Said Iqbal, menggambarkan lingkaran setan dampak perang ini.

Melihat potensi bencana ekonomi yang mengintai, Said Iqbal mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Ia menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto agar mengambil langkah-langkah preventif yang konkret guna melindungi buruh Indonesia dari badai PHK yang mengancam akibat eskalasi geopolitik global. "Oleh karena itu kami meminta pemerintah, Bapak Presiden Prabowo Subianto, mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah PHK akibat perang Iran dengan Amerika plus Israel," pungkasnya, mengingatkan bahwa nasib jutaan pekerja kini berada di ujung tanduk.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *