fixmakassar.com – Amerika Serikat (AS) kembali mencuri perhatian dunia investasi! Layaknya bintang jatuh yang kembali bersinar terang, Negeri Paman Sam kini menduduki peringkat keempat investor asing terbesar di Indonesia pada kuartal II 2025, dengan suntikan dana segar mencapai US$ 0,8 miliar atau setara Rp 13 triliun. Kenaikan dramatis ini, setelah sebelumnya berada di posisi keenam, menunjukkan kekuatan ekonomi AS yang tak terbantahkan di kancah internasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/7/2025), mengungkapkan bahwa kontribusi AS terhadap realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) periode April-Juni 2025 mencapai sekitar 6% dari total investasi asing yang mencapai Rp 202,2 triliun. "Investasi ini mencerminkan kepercayaan investor AS terhadap potensi ekonomi Indonesia," ujar Rosan. Ia menambahkan bahwa angka tersebut merupakan gambaran investasi yang tercatat berdasarkan negara asal perusahaan, bukan entitas sebenarnya.

Lonjakan investasi AS ini, menurut Rosan, beriringan dengan kesepakatan perdagangan baru, khususnya impor minyak mentah (crude oil) dan gas petroleum cair (LPG) dari AS ke Indonesia. Kesepakatan ini memicu kebutuhan pembangunan kilang minyak baru yang spesifik untuk karakteristik minyak mentah AS, sehingga menarik investasi besar-besaran dari perusahaan-perusahaan AS di sektor hilir migas.
Perlu dicatat, AS bukanlah pendatang baru di panggung investasi Indonesia. Mereka sempat masuk lima besar investor pada kuartal III 2024 dan menduduki posisi keempat selama Januari-September 2024 dengan total investasi US$ 2,8 miliar. Meskipun sempat mengalami penurunan, kembalinya AS ke jajaran teratas menunjukkan kekuatan kerjasama strategis kedua negara di sektor energi. Perubahan sumber impor, dari sebelumnya lebih banyak bergantung pada Nigeria dan Arab Saudi, kini bergeser ke AS, namun Rosan memastikan hal ini tidak membebani Indonesia, melainkan hanya penyesuaian alokasi.
Pemerintah Indonesia optimistis tren positif ini akan berlanjut di paruh kedua tahun 2025. Kembalinya AS sebagai salah satu investor utama merupakan bukti nyata bahwa kerjasama ekonomi kedua negara berjalan semakin kuat dan menguntungkan. Ini ibarat sebuah simfoni ekonomi yang harmonis, di mana setiap instrumen memainkan perannya untuk menciptakan melodi pertumbuhan yang indah.






