Berita  
Mahadana

Makan Gratis Rasa Bintang 5? Kepala BGN Ungkap Rahasianya!

fixmakassar.com – Sebuah gebrakan ambisius dicanangkan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang bertekad menyulap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharga Rp10.000 per porsi menjadi hidangan berkelas bintang lima. Visi ini bukan sekadar mimpi di siang bolong, melainkan dorongan nyata untuk menghadirkan makanan berkualitas premium yang tetap ramah di kantong masyarakat. Dadan berharap, kolaborasi antara ahli gizi dan koki profesional akan melahirkan inovasi menu khas MBG yang tak hanya memenuhi standar nutrisi, tetapi juga memanjakan selera layaknya sajian restoran mewah.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Saya berharap suatu hari keluar inovasi-inovasi makanan dari ahli gizi dan chef-chef profesional sehingga akan keluar khas Program Makan Bergizi yang kualitasnya sekelas bintang 5 tapi harganya harga Program MBG dengan bahan baku Rp10.000," ujar Dadan dalam keterangan tertulisnya pada Jumat lalu. Ini adalah seruan untuk sebuah revolusi kuliner di ranah program gizi, di mana kreativitas dan keahlian bertemu untuk mengangkat derajat hidangan publik ke level yang lebih tinggi.

Tantangan inovasi ini semakin mendesak, terutama saat pelaksanaan program bertepatan dengan bulan Ramadan. Pada periode puasa, makanan yang disajikan harus melewati ujian ganda: tidak hanya bergizi tinggi dan segar, tetapi juga memiliki daya tahan yang lebih lama. "Inovasi produk ini penting terutama terkait dengan program selama bulan Ramadan, di mana kita membutuhkan makanan yang berkualitas tinggi, fresh, tapi tahan lama. Nah ini tantangannya," ungkap Dadan, menggarisbawahi kompleksitas dalam menjaga kualitas di tengah kebutuhan khusus.

Dalam satu tahun terakhir, program MBG telah menunjukkan pertumbuhan yang fenomenal. Jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melonjak drastis, dari sekitar 1.000 unit pada Ramadan tahun sebelumnya menjadi sekitar 25.000 unit di seluruh Indonesia. Peningkatan skala ini, ibarat gelombang pasang, membawa serta tantangan tersendiri dalam menjaga konsistensi kualitas layanan di setiap sudut negeri. Dadan mengakui adanya beberapa insiden kecil yang menjadi sorotan publik—sekitar 62 SPPG yang sempat viral—namun ia menempatkannya dalam perspektif yang lebih luas. "Jadi kalau ada 62 yang membuat viral menjadi sesuatu yang luar biasa dari 25.000, jadi kalau dihitung secara persentase sebetulnya kecil tetapi itulah yang kemudian dilihat oleh masyarakat," katanya, mengibaratkan insiden tersebut sebagai setitik noda di lautan upaya besar yang telah dilakukan.

Menyikapi hal tersebut, Dadan menegaskan komitmen BGN untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan internal. Kualitas layanan MBG harus merata di seluruh daerah, dan tidak boleh ada satu pun SPPG yang menyimpang dari petunjuk teknis (juknis) serta standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. "Kita patut terus melakukan perbaikan ke dalam supaya kualitas merata dan tidak ada satu pun SPPG yang menyimpang dari juknis dan SOP yang ditetapkan," pungkasnya, menjadikan juknis dan SOP sebagai kompas utama yang menuntun setiap langkah program demi tercapainya gizi optimal bagi seluruh masyarakat.


Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *