Berita  
Mahadana

Siap-siap! Jutaan Ton Beras Subsidi Bapanas Banjiri Pasar Hingga Akhir Tahun!

fixmakassar.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) kembali mengukuhkan komitmennya dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan beras nasional melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Sejak awal Maret hingga penghujung tahun 2026, sebanyak 828 ribu ton beras SPHP siap digelontorkan ke pasar, didukung anggaran subsidi harga sebesar Rp 4,97 triliun yang telah dialokasikan oleh Bapanas. Ini adalah langkah strategis, ibarat sebuah jangkar yang dilepaskan untuk menstabilkan perahu di tengah gelombang harga, memastikan dapur masyarakat tetap mengepul dengan harga yang terjangkau.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Perum Bulog, sebagai garda terdepan, diamanatkan untuk memfokuskan distribusi beras SPHP ke wilayah-wilayah yang bukan sentra produksi padi atau yang sedang tidak mengalami panen raya. Strategi ini dirancang untuk mengisi kekosongan pasokan dan meredam gejolak harga di daerah yang paling membutuhkan. Sementara itu, untuk daerah yang sedang panen raya, distribusi tetap dapat dilakukan namun secara terbatas, dengan mempertimbangkan kondisi harga beras di tingkat konsumen. Tujuannya jelas: menjaga harga gabah petani agar tidak terperosok di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sekaligus menyeimbangkan ekosistem pangan dari hulu ke hilir.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stabilitas harga beras adalah prioritas utama. Dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikuasai Bulog saat ini mencapai 3,7 juta ton—dan diproyeksikan bisa menembus 4 juta ton pada pertengahan Maret, bahkan 5 juta ton di akhir bulan—Indonesia memiliki benteng pertahanan pangan yang kokoh. "Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia, itu mimpi kita," ujar Amran, menunjukkan optimisme bahwa beras Bulog akan selalu hadir untuk masyarakat sebagai penopang utama ketahanan pangan.

Guna menjangkau lebih luas dan efisien, petunjuk teknis SPHP beras tahun 2026, yang tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 34 Tahun 2026, memperkenalkan inovasi kemasan. Beras SPHP kini tersedia dalam kemasan 5 kilogram (kg) dan 2 kg untuk konsumen umum, memberikan fleksibilitas pilihan. Khusus untuk wilayah Maluku, Papua, serta daerah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan), kemasan 50 kg masih dapat disalurkan, atau di daerah lain sesuai hasil koordinasi pemerintah. Konsumen juga diatur dengan batas pembelian maksimal: 5 kemasan ukuran 5 kg atau 2 kemasan ukuran 2 kg. Penjualan kembali beras SPHP ini dilarang keras, mengingat adanya unsur subsidi negara yang melekat, menjadikannya bukan sekadar komoditas, melainkan jaring pengaman sosial.

Bapanas juga telah merinci ketentuan harga beras SPHP yang berlaku di tiga lini rantai pasok distribusi, memastikan transparansi dan keterjangkauan di setiap titik penjualan:

  • Untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi: Harga di gudang Bulog ditetapkan Rp 11.000 per kg, harga dari distributor ke downline maksimal Rp 11.700 per kg, dan harga di tingkat konsumen maksimal Rp 12.500 per kg.
  • Di wilayah Sumatera (kecuali Lampung dan Sumatera Selatan), Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan: Harga di gudang Bulog Rp 11.300 per kg, dari distributor ke downline maksimal Rp 12.000 per kg, dan di tingkat konsumen maksimal Rp 13.100 per kg.
  • Sementara untuk Maluku dan Papua: Harga di gudang Bulog Rp 11.500 per kg, dari distributor ke downline maksimal Rp 12.300 per kg, dan di tingkat konsumen maksimal Rp 13.500 per kg.

Keberhasilan program SPHP bukan isapan jempol belaka. Realisasi penjualan beras SPHP tahun 2025 yang diperpanjang hingga akhir Februari 2026 telah mencapai 1,025 juta ton, memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga tingkat inflasi beras secara nasional. Data menunjukkan, tingkat inflasi beras bulanan di awal tahun 2026 jauh lebih stabil dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada Januari dan Februari 2026, inflasi beras tercatat masing-masing 0,16 persen dan 0,43 persen. Angka ini jauh lebih terkendali dibandingkan Januari 2024 (0,63 persen) yang kemudian melonjak drastis di Februari 2024 (5,28 persen), maupun tahun 2025 yang relatif stabil di 0,36 persen dan 0,26 persen. Ini menunjukkan bahwa program SPHP adalah termometer yang efektif dalam menjaga suhu harga pangan tetap kondusif, mencegahnya mendidih dan merugikan masyarakat.


Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *