Bocor! Media Asing Ungkap Deal RI-AS, AS Untung Fantastis!
fixmakassar.com – Perjanjian dagang terkait tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) kini menjadi sorotan tajam berbagai media internasional, terutama dari Negeri Paman Sam. Kesepakatan yang melibatkan negosiasi antara pihak Indonesia dan AS ini disebut-sebut sebagai ladang emas, membawa keuntungan luar biasa bagi industri di Amerika Serikat.

Salah satu media terkemuka, New York Post, secara gamblang menyoroti bagaimana kesepakatan ini membuka "karpet merah" bagi produk-produk AS. Mereka melaporkan bahwa Indonesia setuju untuk menghapus bea masuk atas 99% barang-barang Amerika. Sebagai imbalannya, AS hanya akan mempertahankan tarif umum sebesar 19% untuk sebagian besar produk Indonesia, sejalan dengan tarif yang diberlakukan Washington terhadap negara-negara tetangga seperti Kamboja dan Malaysia.
Tak hanya itu, laporan tersebut juga mengungkap komitmen perusahaan-perusahaan Indonesia untuk mengisi "keranjang belanja raksasa" dengan produk pertanian AS. Tercatat, mereka sepakat membeli 1 juta ton kedelai, 1,6 juta ton jagung, dan 93.000 ton kapas. Lebih jauh lagi, para pengusaha Tanah Air juga berjanji akan membeli hingga 5 juta ton gandum dari Negeri Paman Sam pada tahun 2030.
Di sektor mineral kritis, kedua negara juga menyepakati kerja sama strategis. New York Post menggarisbawahi posisi Indonesia sebagai pengekspor bijih tembaga terbesar ketiga di dunia dan produsen utama kabel berisolasi. "Indonesia juga memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang memiliki kegunaan penting untuk industri, seperti memperkuat dan mencegah karat pada paduan baja serta untuk pembuatan baterai," terang media tersebut, menyoroti "harta karun" mineral yang dimiliki Indonesia.
Senada, Associated Press (AP News) juga menyoroti bagaimana perjanjian dagang yang secara resmi disepakati pada Kamis (19/2) di Washington D.C. ini memberikan keuntungan yang sangat besar bagi AS. "Berdasarkan kesepakatan tersebut, perekonomian terbesar di Asia Tenggara akan menghapus tarif untuk 99% barang Amerika, sementara AS akan mempertahankan tarif untuk sebagian besar barang Indonesia sebesar 19%," jelas AP News, mengutip keterangan dari Gedung Putih. Tarif ini, imbuhnya, setara dengan yang ditetapkan AS untuk Kamboja dan Malaysia. Lebih lanjut, Indonesia juga setuju untuk mengatasi hambatan non-tarif terhadap barang-barang AS dan menghapus pembatasan ekspor ke AS untuk mineral penting serta komoditas industri lainnya.
AP News juga melaporkan adanya 11 kesepakatan terpisah antara perusahaan Indonesia dan AS, dengan total nilai fantastis mencapai $38,4 miliar. "Paket kesepakatan jumbo" ini mencakup pembelian kedelai, jagung, kapas, dan gandum AS, kerja sama dalam mineral penting dan pemulihan ladang minyak, serta usaha patungan dalam pengembangan chip komputer.
Lebih lanjut, media internasional ternama seperti New York Times, The Diplomat, hingga kantor berita Reuters turut melaporkan perjanjian dagang kedua negara dengan "harmoni narasi" yang serupa. Mereka semua menyoroti bagaimana Pemerintah Indonesia sepakat untuk menghapus tarif untuk 99% produk AS dan menghilangkan berbagai hambatan non-tarif. Komitmen Indonesia untuk membeli berbagai produk asal AS senilai miliaran dolar, serta kerja sama dalam sektor mineral kritis, secara jelas menunjukkan bagaimana kesepakatan ini merupakan "angin segar" yang sangat menguntungkan bagi Amerika Serikat.






