Berita  
Mahadana

Harga Obat AS Anjlok! 9 Raksasa Farmasi Takluk pada Trump

fixmakassar.com – Sebuah gebrakan signifikan datang dari Gedung Putih, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump berhasil membuat sembilan perusahaan farmasi kelas kakap "tunduk" pada permintaannya. Para raksasa industri obat ini sepakat untuk memangkas harga obat-obatan, terutama bagi program Medicaid milik Pemerintah AS dan pasien yang membayar tunai. Langkah ini bagaikan sebuah palu godam yang menghantam dominasi harga tinggi di pasar obat AS, sejalan dengan ambisi Trump untuk menyelaraskan harga domestik dengan negara-negara maju lainnya.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kita selama ini seperti mensubsidi seluruh dunia. Itu tidak akan kita lakukan lagi," tegas Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, dikutip dari Reuters. Pernyataan ini menegaskan kembali pandangannya bahwa AS telah lama menanggung beban harga obat yang tidak adil dibandingkan negara lain.

Tekanan dari Trump terhadap industri farmasi bukanlah hal baru. Selama masa jabatannya, ia terus-menerus menyuarakan ketidakpuasannya atas harga obat resep yang meroket di AS, yang kerap kali mencapai hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan negara maju lainnya. Kondisi ini telah lama menjadi duri dalam daging bagi jutaan warga Amerika, memaksa mereka merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan esensial.

Kesepakatan bersejarah ini melibatkan deretan nama besar di dunia farmasi, menandakan bahwa bahkan benteng-benteng industri pun bisa digoyahkan. Sembilan perusahaan yang turut serta dan menandatangani perjanjian dengan Pemerintah AS adalah:

  1. Bristol Myers Squibb
  2. Gilead Sciences
  3. Merck
  4. Unit Genentech milik Roche
  5. Novartis
  6. Amgen
  7. Boehringer Ingelheim
  8. Sanofi
  9. GSK

Menariknya, di tengah pengumuman pemangkasan harga, saham sebagian besar perusahaan farmasi justru menunjukkan kenaikan sekitar 1% hingga 3%. Fenomena ini, yang mungkin terlihat kontradiktif, diinterpretasikan oleh para investor sebagai sinyal positif. Mereka menilai bahwa perjanjian ini berhasil menyingkirkan awan gelap ancaman tarif dari Trump selama tiga tahun ke depan, memberikan stabilitas yang sangat dibutuhkan. Courtney Breen, seorang analis dari Bernstein, menggarisbawahi pandangan ini. "Kesepakatan ini menegaskan bahwa para pemimpin industri farmasi memanfaatkan momentum untuk bekerja sama dengan pemerintahan saat ini, sekaligus meminimalkan perubahan besar terhadap ekonomi perusahaan," ujarnya.

Dalam detail perjanjian, masing-masing perusahaan farmasi berkomitmen untuk menurunkan harga sebagian besar obat yang mereka jual ke program Medicaid, yang melayani masyarakat berpenghasilan rendah. Pejabat senior pemerintah AS menjanjikan penghematan besar untuk obat-obatan yang banyak digunakan. Namun, para analis dari fixmakassar.com mencatat bahwa program Medicaid, yang hanya menyumbang sekitar 10% dari total belanja obat di AS, sebenarnya sudah menikmati diskon harga yang sangat besar sebelumnya. Ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar dampak riil penghematan ini secara keseluruhan terhadap total belanja obat di AS.

Terlepas dari nuansa tersebut, langkah ini tetap menjadi tonggak penting dalam upaya reformasi harga obat di Amerika Serikat, sebuah pertarungan yang telah lama dinantikan oleh banyak pihak.


Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *