Berita  

Hantu Mal: Mereka ‘Ngelus-ngelus’ Barang, Tapi Belanja Online!

Mahadana
Hantu Mal:  Mereka 'Ngelus-ngelus' Barang, Tapi Belanja Online!

fixmakassar.com – Pusat perbelanjaan di Indonesia tengah menghadapi fenomena unik: "Roh Halus". Bukan hantu sungguhan, melainkan para pengunjung yang hanya "mengusap-usap" barang di mal, lalu membelinya secara online. Seperti hantu yang bergentayangan, mereka menjelajahi toko-toko, memeriksa kualitas dan ukuran produk, terutama fesyen, tetapi tak pernah mengeluarkan uang di sana. Mereka lebih memilih berburu harga miring di dunia maya.

Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budiharjo Iduansjah, mengungkapkan bahwa toko-toko offline di mal, khususnya yang menjual peralatan rumah tangga, elektronik, dan fesyen, terpukul keras oleh gempuran toko online. Persaingan harga menjadi momok utama. Budiharjo menjelaskan, birokrasi perizinan yang rumit dan pajak yang tinggi membuat biaya operasional toko offline membengkak, mengakibatkan harga jual lebih mahal dibanding toko online. "Barang online juga kena PPN 11%, tapi yang di mal juga 11%! Belum lagi, peraturan impor yang ketat membuat stok barang kami nggak lengkap. Belum apa-apa sudah kalah saing, belum lagi kalah harga," keluhnya.

Hantu Mal:  Mereka 'Ngelus-ngelus' Barang, Tapi Belanja Online!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menambahkan bahwa fenomena "Roh Halus" ini merupakan cerminan persaingan dagang yang ketat antara toko offline dan online. Konsumen, yang selalu mencari harga terbaik, akan memilih platform yang lebih murah. "Selisih harga 10-20% saja sudah cukup signifikan bagi mereka. Mereka datang ke mal hanya untuk melihat barang secara fisik, tapi akhirnya tetap beli online karena lebih murah," jelasnya. Faktor daya beli masyarakat yang rendah juga turut memperparah situasi. Mal, dengan fasilitas dan kenyamanannya, memang lebih mahal. Ketika uang pas-pasan, konsumen akan memilih opsi termurah. Fenomena ini seakan menjadi hantu yang menghantui bisnis ritel konvensional, memaksa mereka untuk beradaptasi atau menghadapi nasib seperti hantu yang terlupakan.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *