Berita  

Harga Beras Turun, Tapi Kok Masih Bikin Geleng-Geleng Kepala?

Mahadana
Harga Beras Turun, Tapi Kok Masih Bikin Geleng-Geleng Kepala?

fixmakassar.com – Kabar baik bercampur sedikit getir datang dari pasar beras nasional. Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan harga beras mulai merangkak turun, seperti layangan yang perlahan-lahan kembali ke bumi setelah diterbangkan angin kencang. Penurunan ini seiring dengan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Perum Bulog untuk periode Juli 2024 hingga Desember 2025.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menyatakan telah mengamati tren penurunan harga beras. "Hasilnya, sudah terlihat penurunan harga beras," ujarnya usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI. Data Bapanas menunjukkan harga beras premium rata-rata Rp 16.051 per kg, turun Rp 28 (0,17%), sementara beras medium Rp 14.282 per kg, turun Rp 75 (0,52%). Namun, kenyataannya, kedua jenis beras ini masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Beras premium masih di atas HET Rp 14.900 per kg, dan beras medium di atas HET Rp 12.500 per kg.

Harga Beras Turun, Tapi Kok Masih Bikin Geleng-Geleng Kepala?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Arief menjelaskan, salah satu pemicu kenaikan harga beras sebelumnya adalah harga gabah yang melambung tinggi. Para penggiling beras berebut membeli gabah dengan harga tinggi, mengabaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) GKP yang telah ditetapkan sebesar Rp 6.500 per kg. Ia pun mengimbau para penggiling untuk mempertimbangkan HET beras saat membeli gabah. "Teman-teman penggiling padi harus melihat ada 280 juta konsumen yang harganya dibatasi HET," tegasnya.

Kenaikan harga gabah menjadi pemicu pemerintah melakukan intervensi melalui penyaluran SPHP menggunakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mencapai 4,2 juta ton. Arief mempertanyakan lonjakan harga beras sebelumnya, mengingat produksi beras Januari hingga Agustus diproyeksikan surplus 3 juta ton dibandingkan tahun lalu, dan naik 1,2 juta ton dibandingkan tahun 2022 dan 2023. "Seharusnya harga beras tidak naik signifikan," tambahnya. Pernyataan ini seakan menjadi pertanyaan besar: mengapa harga beras masih tinggi meskipun stok melimpah? Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban lebih lanjut dari pemerintah.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *