fixmakassar.com – Badai ekonomi AS seakan menjadi berkah tersembunyi bagi Indonesia. Saat ekonomi Negeri Paman Sam diterpa badai kebijakan proteksionis, rupiah justru kokoh dan dibanjiri aliran dana asing. Layaknya magnet yang menarik logam, Indonesia menjadi tujuan investasi baru. Hal ini terungkap dari pernyataan Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang menyebutkan bahwa hingga pertengahan Juli 2025, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) mencapai US$ 900 juta, melanjutkan tren positif triwulan II-2025 sebesar US$ 1,6 miliar.
Perry menjelaskan, kebaikan prospek ekonomi Indonesia, imbal hasil investasi yang tinggi, dan pergeseran aliran modal dari AS ke negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi faktor pendorong utama. Kondisi ini, bagaikan arus sungai yang berbalik arah, membawa limpahan devisa ke Indonesia. Ia menambahkan, pelemahan indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju dan berkembang turut berkontribusi pada penguatan rupiah, yang pada Juni 2025 menguat 0,34% dibandingkan bulan sebelumnya.

Stabilitas rupiah, menurut Perry, juga didukung konsistensi kebijakan stabilisasi BI, aliran masuk modal asing ke SBN, dan konversi valas ke rupiah oleh eksportir. Ke depan, BI optimistis rupiah akan tetap stabil, didukung komitmen menjaga stabilitas nilai tukar, imbal hasil investasi yang menarik, inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif. Strategi intervensi terukur di pasar off-shore NDF dan strategi triple intervention pada transaksi spot, DNDF, dan SBN di pasar sekunder pun terus dioptimalkan.
BI juga terus mengoptimalkan instrumen moneter, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Semua upaya ini bertujuan untuk menarik investasi portofolio asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan demikian, Indonesia mampu melewati badai ekonomi global dengan kokoh, bahkan mendapat keuntungan tak terduga.






