Berita  

Harga Beras Meroket, Petani Senang, Konsumen Menangis? Begini Kata Bos Bapanas!

Mahadana
Harga Beras Meroket, Petani Senang, Konsumen Menangis? Begini Kata Bos Bapanas!

fixmakassar.com – Inflasi Juni 2025 kembali mengetuk pintu rumah tangga Indonesia. Seperti layaknya sebuah drama ekonomi, beras menjadi pemain utama yang mendorong laju inflasi sebesar 0,19% secara bulanan. Kenaikan harga beras sebesar 0,04% ini, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan sebuah pertanda: harga beras di tingkat konsumen sedang merangkak naik. Situasi ini membuat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, angkat bicara.

Arief menjelaskan, lonjakan harga beras bak sebuah efek domino. Awalnya, harga gabah di tingkat petani naik di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500/kg. "Gabah ibarat jantungnya beras," ujar Arief kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (1/7/2025). "Ketika produksinya turun, harga otomatis naik. Dan, kenaikan harga gabah akan langsung berimbas pada harga beras."

Harga Beras Meroket, Petani Senang, Konsumen Menangis? Begini Kata Bos Bapanas!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pemerintah, kata Arief, siap melakukan intervensi. Namun, anggaran yang belum cair menjadi batu sandungan. Penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan pun terhambat. Prosedur yang harus mengikuti aturan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), termasuk menunggu anggaran dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), menjadi penyebabnya.

"Bayangkan, seperti membangun rumah tanpa semen," jelas Arief. "Kita harus mengikuti prosedur BPK. Anggaran harus ada dulu, baru bisa disalurkan. Tidak mungkin menyalurkan bantuan tanpa dana, kan? Itu namanya salah urus."

Namun, kabar baiknya, pengajuan dan persetujuan anggaran telah disetujui Kemenkeu. Arief memastikan, setelah anggaran cair, penyaluran bantuan akan langsung dilakukan. Ia berharap harga beras ke depan tetap stabil di semua rantai pasok, tanpa merugikan petani maupun konsumen.

"Kita menginginkan harga yang wajar, seimbang antara petani dan konsumen," tegas Arief. "Harga gabah yang wajar, harga beras di penggilingan yang wajar, dan harga beras di konsumen yang wajar. Jangan sampai terlalu rendah di hulu, jangan terlalu rendah di hilir. Daya beli 280 juta lebih penduduk Indonesia harus tetap terjaga."

Sebelumnya, BPS melaporkan inflasi tahunan (YoY) sebesar 1,87% dan inflasi tahun berjalan (YtD) sebesar 1,38%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, dengan andil sebesar 0,13%. Selain beras, cabai juga turut berkontribusi pada inflasi.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *