Berita  

Menuju Zero ODOL 2026: Misi Mustahil atau Mimpi Nyata?

Mahadana
Menuju Zero ODOL 2026: Misi Mustahil atau Mimpi Nyata?

fixmakassar.com – Pemerintah memasang target ambisius: mencapai Zero ODOL (Over Dimension Over Loading) pada 2026. Sembilan langkah strategis telah disiapkan, bagai sembilan pedang sakti yang siap membasmi momok truk-truk raksasa yang mengancam infrastruktur dan keselamatan jalan raya. Namun, jalan menuju "surga" Zero ODOL ternyata berliku dan penuh tantangan.

Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Edi Susilo, mengungkapkan rencana aksi pemerintah, mulai dari integrasi sistem digital untuk memetakan angkutan barang hingga pembentukan Komite Percepatan Pengembangan Konektivitas Nasional (KP2KN). Namun, Edi mengakui, misi ini tak semulus jalan tol. Kenaikan biaya distribusi dan harga barang menjadi bayang-bayang yang menghantui. "Roadmap untuk menjaga kelancaran logistik mutlak diperlukan," tegasnya.

Menuju Zero ODOL 2026: Misi Mustahil atau Mimpi Nyata?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kekhawatiran itu bukan isapan jempol. Pelaku industri memprediksi lonjakan biaya logistik hingga 40 persen jika kebijakan ini diterapkan tanpa persiapan matang. Investasi truk baru, pelatihan SDM, perawatan, dan biaya tol menjadi beban tambahan yang signifikan. Ketua Umum Aspadin, Rachmat Hidayat, mengatakan, "Ini bukan sekadar biaya tambahan sementara, tapi beban permanen."

Senada, Asep Setiaharja dari APINDO menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur. "Regulasi tanpa infrastruktur yang memadai hanya akan menyengsarakan pelaku usaha," ujarnya. Astri Wahyuni dari GAPMMI bahkan menyarankan pendekatan persuasif sebelum menjatuhkan sanksi. "Pembinaan lebih dulu, jangan langsung hukuman," imbuhnya.

Polisi pun tak gegabah. Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Brigjen Pol Faizal, menyatakan penegakan hukum akan menunggu kesepakatan bersama seluruh pemangku kepentingan. Sementara itu, Ketua Umum Aptrindo, Gemilang Tarigan, menyoroti ketidaksesuaian spesifikasi truk internasional dengan kapasitas jalan di Indonesia. "Truk internasional 30 ton, tapi jalan kita hanya sanggup 10 ton. Ini harus disinkronkan," tegasnya.

Suripno, pakar transportasi dari Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, mengatakan bahwa ODOL adalah masalah struktural yang membutuhkan solusi jangka panjang. "Pendekatan parsial hanya akan sia-sia," katanya. Rektor UMJ, Prof. Dr. Ma’mun Murod, mengapresiasi diskusi ini sebagai upaya mencari solusi konkret, meski mengakui tantangannya besar.

Kesimpulannya, perjalanan menuju Zero ODOL 2026 bagaikan mendaki gunung Everest. Butuh kolaborasi lintas sektor, kesiapan infrastruktur, dan kesadaran bersama. Apakah misi ini akan berhasil? Hanya waktu yang akan menjawab.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *