Berita  
Mahadana

Misteri Emas Anjlok Saat Dunia Bergejolak: Ada Apa Sebenarnya?

fixmakassar.com – Ketika gejolak geopolitik membara di panggung dunia, terutama antara Amerika Serikat dan Iran, lazimnya harga emas akan melambung tinggi, menjadi pelabuhan aman bagi para investor yang mencari perlindungan. Namun, realitas pasar justru berbicara lain. Dalam pekan-pekan terakhir, logam mulia ini justru mengalami penurunan harga yang signifikan, sebuah fenomena yang memicu tanda tanya besar di kalangan analis dan pelaku pasar. Para investor, alih-alih merangkul emas, kini tampak beralih ke instrumen lain yang dianggap lebih kokoh di tengah badai ketidakpastian.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Data mengejutkan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa harga emas dunia telah merosot tajam. Dalam sepekan terakhir saja, nilainya anjlok sekitar 11%, sebuah kejatuhan terdalam sejak tahun 1983. Jika ditarik sejak dimulainya eskalasi konflik AS-Iran, penurunan ini bahkan mencapai lebih dari 14%. Fenomena ini seolah menampar logika pasar yang selama ini menempatkan emas sebagai ‘safe haven’ utama, aset yang selalu bersinar terang saat awan gelap krisis menyelimuti ekonomi global.

Menurut Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, pesona emas kini seolah meredup, kalah pamor dibandingkan aset-aset lain seperti dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss yang dianggap lebih aman di tengah krisis Timur Tengah. Bhima menjelaskan, harga emas yang sudah mencapai puncaknya dalam dua tahun terakhir telah memicu aksi ‘profit taking’ besar-besaran dari para pelaku pasar. "Emas sudah terlalu mahal, jadi banyak trader yang profit taking karena sudah menumpuk emas dua tahun terakhir," ujarnya kepada fixmakassar.com pada Selasa (24/3/2026).

Lebih lanjut, kebutuhan akan likuiditas menjadi faktor penentu. Di tengah ketidakpastian, ‘cash is the king’, dan dolar AS kini tampil sebagai raja yang memenangkan pertarungan aset aman. "Setelah ramai soal dedolarisasi, kini dolar AS memenangkan pertarungan sebagai aset yang paling aman di tengah krisis," tambah Bhima, memprediksi harga emas akan terkoreksi hingga level Rp 1,9-2 juta per gram.

Senada dengan Bhima, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet, juga mengakui bahwa penurunan harga emas di tengah konflik global adalah anomali. Ini mengindikasikan bahwa pasar saat ini lebih digerakkan oleh dinamika finansial ketimbang gejolak geopolitik murni. Yusuf menjelaskan, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, terutama dari Federal Reserve AS, telah membuat instrumen seperti obligasi pemerintah menjadi magnet baru bagi investor. Emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, akhirnya terpaksa ‘minggir’ sementara, membuat harganya tertekan.

Penguatan dolar AS juga menjadi cambuk ganda bagi harga emas. Karena emas dihargakan dalam dolar, ketika mata uang Paman Sam itu menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global, otomatis menekan permintaan. Yusuf menambahkan, pasar tampaknya belum melihat konflik antara Iran, AS, dan Israel sebagai ancaman yang cukup serius untuk mengguncang stabilitas ekonomi global secara fundamental. Oleh karena itu, dorongan untuk berlindung di aset ‘safe haven’ tradisional seperti emas belum sekuat biasanya.

Menariknya, konsep ‘safe haven’ kini tidak lagi monopoli emas. Sebagian investor justru memecah portofolio mereka ke dolar AS dan obligasi pemerintah AS, membuat permintaan terhadap emas menjadi lebih terfragmentasi, berbeda dengan pola klasik di masa lalu. Ke depan, arah pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada dua kutub utama: dinamika suku bunga global dan eskalasi geopolitik. Jika inflasi mereda dan suku bunga mulai melandai, emas berpotensi kembali menemukan kilauannya. Namun, jika konflik global memanas dan mulai merembet ke sektor riil seperti energi atau perdagangan, maka permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai bisa melonjak kembali, menjadi penyelamat di tengah badai.


Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *