Berita  

Badai Geopolitik Menerjang! RI Desak ASEAN Bentuk Perisai Ekonomi!

Mahadana
Badai Geopolitik Menerjang! RI Desak ASEAN Bentuk Perisai Ekonomi!

fixmakassar.com – Jakarta – Awan gelap ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini membayangi stabilitas perdagangan global, memicu kekhawatiran serius di kalangan negara-negara ASEAN. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti, dalam forum ASEAN Economic Ministers (AEM) Retreat and Related Meetings 2026 yang berlangsung pada 11-13 Maret 2026 di Manila, Filipina, menyerukan agar kawasan Asia Tenggara segera memperkuat kerja sama dan solidaritas ekonomi sebagai benteng pertahanan dari potensi gejolak global.

Roro menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur perdagangan vital, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang merupakan arteri utama distribusi energi dunia. Kondisi ini, jika terjadi, bukan hanya akan memicu lonjakan harga energi, tetapi juga dapat merusak rantai pasok global dan menurunkan nilai perdagangan internasional secara signifikan, layaknya gelombang pasang yang menghantam pesisir.

Badai Geopolitik Menerjang! RI Desak ASEAN Bentuk Perisai Ekonomi!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menyikapi dinamika ini, Wamen Roro menegaskan bahwa ASEAN, dengan posisi geografis dan ekonominya yang strategis, memiliki peran krusial dalam menjaga keterbukaan sistem perdagangan. "Di tengah badai geopolitik dan fragmentasi geoekonomi, ASEAN harus tetap bersatu dan mengintensifkan kolaborasi," ujar Roro, sebagaimana dikutip fixmakassar.com pada Rabu (18/3/2026). Ia menambahkan, pendekatan yang mengedepankan integrasi ekonomi dan kerja sama regional adalah kunci untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan, menjadi kompas di tengah lautan ketidakpastian.

Ia juga mendukung penuh konsep "resilience without retreat", sebuah strategi untuk memperkuat ketahanan ekonomi kawasan tanpa mengorbankan komitmen terhadap keterbukaan perdagangan. Konsep ini diharapkan menjadikan ASEAN tetap kompetitif, inklusif, dan tangguh menghadapi berbagai disrupsi global, seperti pohon kokoh yang tak tumbang diterpa angin.

Lebih lanjut, Roro mendorong negara-negara anggota untuk mengarahkan kerja sama pada sektor-sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, teknologi digital, dan semikonduktor. "Alih-alih bersaing dalam memberikan insentif, ASEAN justru perlu merajut pembagian peran dan kolaborasi regional," jelasnya. Ini bertujuan membangun rantai pasok kawasan yang lebih kokoh dan berdaya saing, layaknya jaringan akar yang saling menguatkan.

Dalam konteks ketahanan pangan, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menunjukkan komitmen kuat. Dengan surplus produksi beras, Indonesia siap menjadi salah satu lumbung pangan kawasan. "Kami sedang menjajaki peluang ekspor beras ke beberapa negara di ASEAN," kata Roro, menegaskan peran Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan pangan regional.

Tak hanya pangan, Indonesia juga menyatakan kesiapannya untuk menjadi bagian dari solusi ketahanan energi ASEAN. Di tengah ketidakpastian pasokan global, Indonesia menawarkan sumber daya yang melimpah untuk menopang kebutuhan energi kawasan, memastikan stabilitas pasokan bagi negara-negara anggota, seperti mercusuar yang menerangi jalan di kegelapan.

Sebagai penutup, Roro mengajak ASEAN untuk memperluas jaring kemitraan ekonomi dengan berbagai mitra global. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko konsentrasi pasar dan memperkuat posisi ASEAN sebagai jangkar stabilitas ekonomi di kawasan Indo-Pasifik. "Persatuan dan koordinasi kebijakan antarnegara anggota adalah kompas kita dalam menghadapi ketidakpastian global," pungkasnya, menekankan bahwa kerja sama regional adalah kekuatan utama ASEAN untuk menghadapi tantangan dan meraih peluang.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *