Berita  

Bukan Kaleng-Kaleng! Siswi SMK Kudus Jadi Bintang Animasi Dunia!

Mahadana
Bukan Kaleng-Kaleng! Siswi SMK Kudus Jadi Bintang Animasi Dunia!

fixmakassar.com – Anggapan bahwa proyek internasional adalah domain eksklusif para profesional senior kini terpatahkan oleh Ferena Hasna Kamila. Siswi Program Keahlian Animasi, Konsentrasi Animasi 3D, di SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus ini berhasil menembus panggung global, terlibat dalam proyek animasi berskala internasional saat masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa bakat dan dedikasi tak mengenal batasan usia atau pengalaman.

Ferena, yang jauh-jauh datang dari Tangerang Selatan, menemukan SMK RUS berkat informasi dari sang ayah. Rasa penasaran membawanya menelusuri lebih dalam melalui berbagai sumber, termasuk ulasan dari para kreator di YouTube. "Awalnya ayah saya mengirimkan beberapa tautan tentang SMK Raden Umar Said. Saya juga melihat dari YouTube dan merasa tertarik karena bidang animasi terlihat sangat prospektif," ujar Ferena kepada rekan media, baru-baru ini. Tekadnya bulat, ia pun mendaftar dan berhasil diterima.

Bukan Kaleng-Kaleng! Siswi SMK Kudus Jadi Bintang Animasi Dunia!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Perjalanan Ferena di Kudus bukan tanpa rintangan. Ini adalah kali pertama ia hidup mandiri, jauh dari keluarga. "Tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru dan belajar menyelesaikan masalah sendiri," kenangnya. Namun, dukungan penuh dari guru dan mentor di sekolah menjadi kompas penunjuk arah baginya, membantu Ferena berlayar melewati gelombang adaptasi.

Kesempatan emas untuk berkiprah di kancah internasional datang saat Ferena menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di akhir kelas 11 hingga awal kelas 12. Ia terlibat dalam pengerjaan proyek animasi berjudul ‘Fia Fairies’ musim kedua, sebuah produksi studio dari Irlandia. Sistem kerja yang diterapkan sangat mirip dengan standar industri profesional, di mana siswa menerima tugas dari supervisor, melalui evaluasi, dan revisi berlapis. "Informasi proyek ini datang dari supervisor. Mereka akan memberi kami pekerjaan dan alurnya. Setelah dikerjakan, ada revisi dari supervisor di sini (Indonesia) sebelum diteruskan ke klien luar negeri. Jika ada revisi lagi dari klien, materi akan dikembalikan kepada kami," jelas Ferena.

Proses pengerjaan ‘Fia Fairies’ memakan waktu cukup panjang, sekitar tiga hingga tujuh bulan. Tantangan terberat yang Ferena rasakan adalah menyesuaikan diri dengan standar kerja internasional, termasuk memahami instruksi teknis dan istilah yang terkadang berbeda. "Karena ini proyek dari luar negeri, kadang ada istilah atau penggunaan bahasa yang berbeda. Kami harus menyesuaikan lagi dengan database dan standar yang mereka gunakan," imbuhnya.

Ferena sangat mengapresiasi fasilitas yang tersedia di SMK RUS. Dukungan sarana dan prasarana yang canggih, hasil kemitraan dengan Djarum Foundation, menjadi jembatan emas bagi siswa untuk terlibat dalam proyek global. "Di sini, fasilitasnya sangat bagus. Kami bisa mengerjakan proyek dari luar negeri dengan dukungan yang luar biasa," katanya. Para siswa tidak bekerja sendirian, melainkan dibimbing oleh supervisor berpengalaman yang telah malang melintang di berbagai studio animasi. Mereka tak hanya memberi arahan teknis, tetapi juga menanamkan etos kerja profesional.

Selain ‘Fia Fairies’, SMK RUS juga telah menorehkan tinta emas dengan melibatkan siswa dalam berbagai proyek global lainnya, termasuk serial animasi populer seperti Barbie, Unicorn World, Pororo, dan Cocomelon untuk platform internasional sekelas Disney Junior dan Netflix. Bahkan, salah satu karya siswa SMK RUS Kudus, ‘Unstring Your Heart’, pernah menjadi nominasi di The 20th Kansas International Film Festival 2020. Setelah lulus, Ferena berencana langsung terjun ke industri kreatif di Indonesia, khususnya Jakarta, dengan kepercayaan diri yang membuncah berkat pengalaman internasionalnya.

Dari Animasi ke Panggung Mode Global: Kisah Siswi SMK NU Banat

Benang merah keberhasilan tak hanya terajut di SMK RUS. Djarum Foundation juga menggandeng SMK lain di Kudus, salah satunya SMK NU Banat yang unggul di bidang desain busana. Amira Zenisbath dan Dayana Indra Utomo, dua siswi SMK NU Banat, juga merasakan manisnya berkarya di lingkungan pembelajaran yang terhubung langsung dengan denyut nadi industri.

Amira, yang sejak kecil memendam cinta pada dunia mode, menemukan wadah untuk mengasah bakatnya di sekolah ini. "Saya memang dari kecil suka dunia fashion. Dulu juga pernah jadi model, jadi ingin lebih mengenal dunia fashion dan belajar membuat busana sendiri," tutur Amira. Di sekolah, mereka tidak hanya diajarkan membuat desain, tetapi juga membaca dan menciptakan tren masa depan. "Kami diajarkan untuk membuat desain yang tidak hanya mengikuti tren sekarang, tapi juga tren yang akan datang," jelasnya. Amira berharap dapat mengembangkan usaha di bidang fashion, sementara Dayana bercita-cita menjadi desainer ternama dari Indonesia.

SMK NU Banat memiliki brand busana hasil pembelajaran berbasis Teaching Factory bernama ‘Zelmira’, yang kini telah menembus pasar global. Karya-karya siswa mereka bahkan telah dipamerkan di panggung mode berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Italia, Paris, hingga Hong Kong. Teranyar, mereka menjalin kerja sama dengan hotel mewah di Eropa untuk memproduksi produk fesyen korporasi.

Prestasi ini tak luput dari perhatian Menteri Perdagangan RI (Mendag) Budi Santoso, yang akrab disapa Busan. Saat meninjau produk fashion ‘Zelmira’ di SMK NU Banat, Kamis (12/3), Busan menyarankan agar produk-produk ini dapat masuk ke department store atau pusat perbelanjaan, khususnya di Jakarta. Program Manager Djarum Foundation, Galuh Paskamagma, menyambut baik tawaran Kementerian Perdagangan untuk membuka akses pasar ini. Nantinya, karya siswa akan melalui proses kurasi ketat. "Desain dari anak-anak SMK akan dikurasi. Kalau memang cocok dan bisa diterima oleh pasar, desain-desain itu akan masuk ke department store," terang Galuh. Standar kurasi Kemendag mencakup kualitas jahitan, bahan, dan yang terpenting, daya terima pasar.

Teaching Factory: Kunci Mengukir Prestasi Global

Galuh Paskamagma mengungkapkan, berbagai capaian gemilang ini bukanlah kebetulan semata, melainkan buah dari proses panjang peningkatan kualitas pendidikan vokasi. Selama 15 tahun, Djarum Foundation telah menjalin kemitraan dengan 20 SMK di Kabupaten Kudus, memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program pengembangan.

Salah satu pendekatan fundamental yang diterapkan adalah Teaching Factory, sebuah metode pembelajaran inovatif yang mengawinkan proses belajar dengan praktik kerja berbasis industri. Melalui model ini, setiap SMK dapat memiliki produk usaha sendiri, sesuai dengan keunggulan spesifik sekolahnya. Keterlibatan siswa dalam Teaching Factory tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan mental kewirausahaan sejak dini.

"Selama sekolah, siswa dibiasakan mengerjakan proyek melalui pembelajaran berbasis Teaching Factory, mulai dari skala nasional hingga internasional. Ini memberi kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam pekerjaan dengan standar industri," jelas Galuh.

Dari 20 SMK mitra Djarum Foundation, sepuluh di antaranya telah memiliki Teaching Factory dengan produk yang sukses diterima pasar. Beberapa bahkan berhasil membukukan pendapatan fantastis, lebih dari Rp 20 miliar setiap tahun. Produk-produk ini juga dipasarkan melalui berbagai kanal, termasuk platform e-commerce besar seperti Blibli. Melalui pendekatan holistik ini, siswa vokasi tidak hanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menciptakan karya yang mampu bersaing dan bersinar di pasar global, membuktikan bahwa pendidikan vokasi adalah gerbang menuju masa depan yang cerah.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *