Berita  
Mahadana

Harga Cabai Mulai Turun, Tapi Dompet Tetap Menjerit! Ada Apa?

fixmakassar.com – Kabar gembira datang dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang mengklaim harga cabai, si "primadona" dapur, mulai menunjukkan tren penurunan setelah sempat melambung tinggi bak roket di awal Ramadan. Namun, jangan dulu bersorak terlalu kencang, sebab harganya masih jauh di atas batas wajar, membuat dompet konsumen tetap menjerit kesakitan.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan bahwa setelah sempat menembus angka fantastis Rp 110.000-Rp 120.000 per kilogram (kg) di pasar-pasar seperti Kota Tangerang, kini harga komoditas pedas ini mulai "melandai". Berdasarkan pantauan Bapanas di Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang, harga cabai rawit merah kini berada di kisaran Rp 75.000-Rp 80.000/kg.

"Kondisi sudah mulai membaik karena hujan mulai berkurang. Pasokan sudah mulai naik dan harga pun mulai melandai," ujar Ketut, seperti dikutip fixmakassar.com pada Selasa (17/2).

Meski begitu, angka tersebut masih tergolong "sangat pedas" bagi kantong masyarakat. Pasalnya, Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah untuk cabai rawit merah hanya berkisar Rp 40.000-Rp 57.000/kg. Sementara untuk cabai merah keriting, HAP-nya berada di rentang Rp 37.000-Rp 55.000/kg. Jelas terlihat, jurang perbedaan antara harga pasar dan HAP masih membentang lebar.

Pengecekan serupa juga dilakukan di jantung ibu kota, tepatnya di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) pada Senin (16/2) lalu. Pedagang di sana melaporkan harga cabai kini bergerak di angka Rp 70.000-Rp 85.000/kg, turun dari puncaknya yang sempat menyentuh Rp 90.000/kg. Peningkatan pasokan disebut menjadi "angin segar" yang sedikit menekan harga.

Ketut menjelaskan, biang kerok di balik lonjakan harga sebelumnya bukanlah minimnya produksi. "Secara produksi sangat cukup," tegasnya. Masalah utamanya adalah kendala teknis distribusi dan faktor cuaca ekstrem. Curah hujan yang tinggi membuat para petani enggan memetik cabai karena khawatir komoditas tersebut akan cepat busuk. Selain itu, momentum libur juga turut menyumbang pada kelangkaan tenaga kerja panen, sehingga pasokan ke pasar sempat "terkoreksi" atau terhambat.

"Metiknya yang takut, karena hujan dan lain sebagainya, mereka tidak berani metik karena akan langsung busuk," imbuh Ketut, melukiskan dilema para petani yang berhadapan dengan alam.

Di tengah gejolak harga cabai, Bapanas juga mencatat stabilitas pada sejumlah komoditas pangan lainnya. Harga bawang putih terpantau di kisaran Rp 32.000/kg di tingkat grosir dan Rp 35.000-Rp 37.000/kg di tingkat eceran. Untuk protein hewani, telur ayam ras stabil di Rp 30.000-Rp 31.000/kg, daging sapi Rp 135.000-Rp 140.000/kg, dan daging ayam ras sekitar Rp 40.000/kg atau di bawahnya. Minyakita tetap setia pada Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700/liter. Sementara beras premium di kisaran Rp 13.500-Rp 13.700/kg dan beras medium Rp 14.900-Rp 15.000/kg.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada tanda-tanda pemulihan, perjalanan menuju stabilitas harga cabai yang benar-benar terjangkau masih memerlukan upaya ekstra, terutama dalam mengatasi tantangan distribusi dan dampak perubahan iklim yang tak terduga.


Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *