Rusia Memanggil! Kopi Gayo & Mandailing Siap Panen Dolar
fixmakassar.com – Jakarta – Aroma kopi khas Nusantara kini tercium hingga ke jantung Eurasia. Bambang Soesatyo (Bamsoet), Anggota DPR RI yang juga Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, melihat peluang ekspor kopi Gayo dan Mandailing ke Rusia sebagai sebuah gerbang emas yang terbuka lebar. Pergeseran peta perdagangan global, ditambah lonjakan konsumsi kopi di kawasan Eurasia, khususnya Rusia, menjadi pemicu utama optimisme ini.

Menurut Bamsoet, Rusia telah menjelma menjadi magnet baru bagi importir kopi. Dalam beberapa tahun terakhir, negeri beruang merah ini menunjukkan grafik impor yang terus menanjak dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Data perdagangan tahun 2025 bahkan mencatat total ekspor kopi Indonesia secara keseluruhan telah melampaui angka USD 1 miliar, dengan volume mencapai ratusan ribu ton. Rusia kini menempati posisi istimewa sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di luar dominasi Amerika Serikat dan Uni Eropa.
"Dengan lebih dari 140 juta penduduk dan budaya minum kopi yang kian menggeliat, terutama di metropolitan seperti Moskow dan St. Petersburg, Rusia adalah pasar yang tak bisa diabaikan," terang Bamsoet saat menerima Delegasi Rusia-Indonesia untuk pasar kopi di Jakarta, Kamis (12/2/2026). "Permintaan kopi telah melonjak drastis dalam dua tahun terakhir. Ini adalah momen emas bagi kopi Gayo dan Mandailing, yang dikenal dengan karakter rasa kuat dan keunikannya."
Ia menambahkan, reputasi kopi Gayo dari Aceh dan kopi Mandailing dari Sumatera Utara sudah tak diragukan lagi di kancah global. Kopi Gayo memikat dengan aroma kuat, keasaman rendah, dan bodi tebal, sementara Mandailing menawarkan sentuhan earthy dan herbal yang khas. Kedua varietas ini bukan sekadar kopi biasa; mereka adalah bintang di pasar internasional, kerap menembus harga premium, bahkan dua hingga tiga kali lipat dari kopi komersial pada lelang-lelang bergengsi.
"Kualitas kopi kita sudah diakui dunia. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita memastikan pasokan yang konsisten, menjaga standar mutu yang tak tergoyahkan, serta membangun citra merek Indonesia yang kuat di benak konsumen Rusia," ujar Bamsoet. Ia menekankan bahwa importir Rusia mencari lebih dari sekadar kopi; mereka mencari jaminan kualitas dan kontinuitas suplai. Oleh karena itu, peran pemerintah dan asosiasi eksportir menjadi sangat krusial dalam membimbing petani dan UMKM agar dapat memenuhi standar global. Momentum kerja sama perdagangan dengan negara-negara Eurasia, termasuk melalui perundingan dagang dengan Eurasian Economic Union yang menjanjikan tarif lebih kompetitif, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Di tengah gejolak geopolitik global yang menggeser kompas perdagangan dunia, Rusia kini aktif mencari mitra baru yang dapat menjamin pasokan komoditas pangan dan minuman berkualitas secara stabil. Indonesia, dengan kekayaan alamnya, berada pada posisi strategis untuk mengisi kekosongan ini.
"Rusia sedang melakukan diversifikasi sumber impornya. Ini adalah panggilan bagi Indonesia untuk tampil sebagai mitra yang terpercaya," tegas Bamsoet. "Kita harus melancarkan diplomasi ekonomi yang agresif, mengirimkan misi dagang terpadu, dan gencar mempromosikan kopi Gayo serta Mandailing di pameran-pameran internasional di Moskow dan kota-kota besar lainnya. Jangan sampai permata ini direbut oleh pesaing seperti Vietnam atau Brasil yang juga mengincar pasar yang sama."






