Berita  

Terbongkar! Inflasi RI 3,55% Bukan Karena Makanan, Tapi Ini!

Mahadana
Terbongkar! Inflasi RI 3,55% Bukan Karena Makanan, Tapi Ini!

fixmakassar.com – Jakarta – Kabar kurang menyenangkan datang dari perekonomian nasional. Inflasi Indonesia pada awal tahun 2026, tepatnya di bulan Januari, melonjak hingga 3,55% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini, ibarat sebuah kompas yang sedikit melenceng dari arah yang diharapkan, telah melampaui batas atas target pemerintah yang ditetapkan di rentang 1,5% hingga 3,5%. Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengungkap bahwa pemicu utama kenaikan ini bukanlah pada sektor kebutuhan pokok seperti makanan, melainkan ada "dalang" lain yang tak terduga di baliknya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, meskipun inflasi yoy menyentuh 3,55%, secara bulanan (month-to-month/mtm) justru terjadi deflasi tipis 0,15%. Namun, fokus utama tetap pada lonjakan tahunan yang membuat pemerintah harus ekstra waspada. "Angka ini terlihat memang sudah keluar dari target pemerintah yang menjaga inflasi di angka 2,5% plus minus 1%," ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang disiarkan virtual, Senin (9/2/2026), menegaskan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian serius.

Terbongkar! Inflasi RI 3,55% Bukan Karena Makanan, Tapi Ini!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dari total inflasi 3,55% tersebut, Tito memaparkan, kontributor terbesar datang dari kategori perumahan, air, listrik, dan bahan bakar, yang secara kolektif menyumbang andil inflasi sebesar 1,72%. Dan yang paling mencolok, dari angka 1,72% tersebut, kenaikan tarif listrik sendiri menjadi "magnet" utama penarik inflasi dengan sumbangan sebesar 1,49%.

Namun, Tito buru-buru meluruskan persepsi publik. Kenaikan tarif listrik ini bukanlah karena pemerintah atau PLN menaikkan harga. "Kenapa tarif listrik bisa naik? Pada kenyataannya tidak dinaikkan. PLN tidak menaikkan," jelas Tito. Fenomena ini terjadi karena di awal tahun 2025, tepatnya Januari dan Februari, pemerintah memberikan diskon listrik 50% sebagai subsidi kepada masyarakat.

Metodologi perhitungan BPS yang membandingkan harga secara tahunan (year-on-year) menjadi "biang kerok" di balik "ilusi" kenaikan ini. Januari 2026, tanpa diskon, dibandingkan dengan Januari 2025 yang harganya dipangkas separuh. "Nah, itu mengakibatkan, metodologi ini mengakibatkan terjadi inflasi," sebut Tito, menekankan bahwa ini adalah efek statistik dari berakhirnya subsidi, bukan kenaikan harga riil yang diberlakukan.

Selain listrik, Tito juga menyoroti kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya yang turut memberikan andil inflasi sebesar 1%. Di dalamnya, pembelian perhiasan emas menjadi penyumbang signifikan, yakni 0,93%. Harga emas yang melambung tinggi ini, menurut Tito, adalah cerminan dari gejolak dunia yang sedang bergejolak. "Karena memang dunia lagi bergejolak, perang dan lain-lain, mengakibatkan banyak negara menyimpan reservenya dalam bentuk emas, jadi emas naik," katanya, menggambarkan emas sebagai "jangkar" keamanan di tengah badai ekonomi global yang tak menentu.

Yang menjadi kabar baik dan patut dicermati, Tito menekankan bahwa inflasi kali ini bukan disebabkan oleh kenaikan harga pada kategori makanan, minuman, dan tembakau, yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Inflasi dari sektor ini hanya menyumbang sekitar 0,46% dari total inflasi. Ini berarti, "kantong" masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar masih relatif aman dari guncangan harga, memberikan sedikit kelegaan di tengah tekanan inflasi yang ada.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *