fixmakassar.com – Lembaga pemeringkat global Moody’s Investors Service baru-baru ini menyoroti prospek ekonomi Indonesia. Meskipun mempertahankan peringkat kredit pada level Baa2, sebuah sinyal "investment grade" yang solid, Moody’s memangkas outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan ini sontak memicu respons dari pemerintah dan Bank Indonesia, yang segera angkat bicara untuk menenangkan pasar dan menjelaskan strategi menghadapi "awan mendung" prospek ini.
Dalam laporannya, Moody’s mengafirmasi peringkat Baa2 Indonesia, mengakui ketahanan ekonomi yang tetap kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dan solid, didukung oleh kekuatan struktural termasuk sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang menopang prospek pertumbuhan jangka menengah. Kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal juga menjadi penopang stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Namun, revisi outlook negatif dipicu oleh pandangan Moody’s akan risiko dari penurunan kepastian kebijakan, yang jika berlanjut, dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian nasional.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menanggapi bahwa perubahan outlook ini kemungkinan besar berasal dari kurangnya pemahaman lembaga rating terhadap arah kebijakan terbaru di Indonesia. "Banyak lembaga rating belum memahami peta jalan ekonomi kita," ujar Airlangga dalam sebuah kesempatan, menekankan perlunya penjelasan mendalam kepada para investor dan lembaga riset asing. Ia menjelaskan, alokasi anggaran pemerintah dalam APBN 2026 memiliki fokus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni mengalokasikan dana untuk program unggulan Presiden Prabowo Subianto seperti makan bergizi gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan program-program lainnya.
Airlangga menambahkan, untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan sektor investasi, pemerintah kini banyak mengandalkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. "Ini yang membedakan. Kalau sebelumnya investasi dilakukan melalui anggaran, sekarang kita sudah punya Danantara. Ini yang banyak rating agency ataupun pelaku pasar keuangan global belum paham," jelasnya. Menurut Airlangga, Danantara adalah "kunci reformasi" yang memungkinkan BUMN bergerak lincah layaknya sektor swasta, sebuah terobosan yang belum sepenuhnya dipahami pasar global.
Senada dengan pemerintah, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa penyesuaian outlook tersebut sama sekali tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. "Di tengah badai ketidakpastian global yang tinggi, kinerja ekonomi domestik kita tetap berdiri kokoh," kata Perry dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 5 Februari 2026. Ia memaparkan data solid: pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, membawa pertumbuhan setahun penuh 2025 ke angka 5,1%. Inflasi tetap terkendali di 2,92%, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat oleh komitmen Bank Indonesia. Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga, ditopang likuiditas memadai, permodalan perbankan yang tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Digitalisasi sistem pembayaran yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menariknya, di balik outlook negatif, Moody’s sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Defisit fiskal diperkirakan tetap di bawah 3% PDB, dan kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi. Lembaga pemeringkat ini juga memperkirakan bahwa rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap terjaga rendah dibandingkan negara-negara sejenis. Namun demikian, Moody’s menyoroti tantangan Indonesia untuk meningkatkan basis penerimaan negara, sebuah fondasi vital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan. Dalam hal ini, upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan, antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan, diapresiasi.
Dengan demikian, meskipun "lampu kuning" telah menyala dari Moody’s, pemerintah dan Bank Indonesia kompak menyuarakan optimisme dan kesiapan. Mereka meyakini fondasi ekonomi Indonesia masih kuat dan strategi baru sedang dijalankan untuk terus menarik investasi serta menjaga pertumbuhan di tengah dinamika global yang tak menentu.






