Berita  

Bikin Melongo! Di Jaksel, Jahit Baju Cuma Rp 5 Ribu? Ini Kisahnya

Mahadana
Bikin Melongo! Di Jaksel, Jahit Baju Cuma Rp 5 Ribu? Ini Kisahnya

fixmakassar.com – Di tengah gemuruh Jakarta yang serba cepat dan mahal, ada sebuah fenomena yang seolah membeku dalam waktu. Saat keberadaan tukang jahit keliling kini bagai permata langka, terutama di jantung kota metropolitan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, justru menjadi oase bagi mereka. Di sini, di balik tirai asap knalpot dan hiruk pikuk lalu lintas, suara mesin jahit tua berdenyut pelan namun konsisten, menjadi melodi kehidupan yang tak lekang oleh waktu. Mereka menawarkan jasa dengan harga yang membuat dahi berkerut: mulai dari Rp 5.000 saja. Sebuah harga yang terasa seperti bisikan dari masa lalu di tengah gemerlap Jaksel.

Sepanjang Jalan Raya Jagakarsa, tak jauh dari Pasar Lenteng Agung, pemandangan unik terhampar. Setidaknya 15 penjahit keliling berjajar rapi, membentuk sebuah "komunitas" kecil yang gigih. Mereka adalah para penjaga tradisi, menggantungkan asa pada setiap helaan benang, setiap potongan kain, dan putaran roda mesin jahit manual yang setia menemani. Di bawah naungan payung lusuh yang menjadi kanopi darurat mereka, di ruang sempit yang berbatasan langsung dengan aspal, para penjahit ini mengukir kisah tentang perjuangan dan dedikasi.

Bikin Melongo! Di Jaksel, Jahit Baju Cuma Rp 5 Ribu? Ini Kisahnya
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Salah satunya adalah Lasmina (34), yang telah mengukir jejaknya di Lenteng Agung selama delapan tahun. Ia meneruskan warisan keahlian menjahit dari almarhum suaminya. "Dari dulu memang banyak yang mangkal di Lenteng sini, dari ujung ke ujung," tuturnya kepada fixmakassar.com pada Senin (5/1/2026). Lasmina, dengan gerobak sederhananya, hanya menerima permak pakaian. Memotong celana, mengecilkan baju, atau mengganti resleting adalah santapan sehari-harinya. Membuat pakaian baru dari bahan mentah? Itu adalah kemewahan yang tak bisa ia jamah, terbentur keterbatasan ruang dan peralatan yang ia miliki.

Tarif yang dipatok Lasmina seolah menantang gravitasi harga di ibu kota. Untuk lubang kecil pada pakaian, Rp 5.000 sudah cukup. Permak lain seperti mengecilkan atau memotong bisa berkisar Rp 10.000 hingga Rp 25.000, tergantung kerumitan dan ukuran pakaian. "Kalau cuma bolong-bolong itu Rp 5.000 rata-ratanya," jelasnya. Namun, ia menambahkan, harga ini, bak air yang mengalir, bisa berubah, menyesuaikan dengan gelombang persaingan antar sesama penjahit dan empati terhadap kondisi pelanggan.

Kisah serupa juga datang dari Heri (33), seorang veteran benang dan jarum yang telah berlabuh di Lenteng Agung sejak 2019, meski telah menjadi penjahit keliling sejak 2011. Seperti Lasmina, Heri juga fokus pada reparasi pakaian. "Kalau bikin gitu pada nggak terima di sini. Bisa sih bisa tapi kadang nggak terima, lama waktunya kan, mending yang kayak gini reparasi doang," ungkapnya, menjelaskan alasan di balik pilihan layanannya.

Tarif Heri pun senada, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 35.000 untuk "rombak total" pakaian. "Paling kalau rombak total Rp 35.000 satu baju itu," katanya, menegaskan bahwa harga-harga ini adalah kesepakatan tak tertulis di antara para penjahit jalanan, sebuah kode etik yang menjaga keberlangsungan hidup mereka di tengah kerasnya persaingan.

Di tengah lautan biaya hidup yang terus pasang di Jakarta, para penjahit keliling di Lenteng Agung ini adalah mercusuar harapan. Mereka bukan sekadar penyedia jasa, melainkan penjaga nyala api keahlian tangan yang kian terpinggirkan. Dengan harga yang ramah di kantong, mereka membuktikan bahwa di balik fasad kemewahan ibu kota, masih ada denyut nadi kesederhanaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang tak lekang oleh zaman. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang dengan setiap jahitan, merajut kembali benang-benang kehidupan banyak orang.

Ikuti Kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *